MamaOla

Showing posts with label kristen. Show all posts
Showing posts with label kristen. Show all posts

Wednesday, November 30, 2011

Wahana Visi Indonesia: Mewujudkan Mimpi Anak-anak Bangsa


Wahana Visi Indonesia: Mewujudkan Mimpi Anak-anak Bangsa

Oleh: Chriswan Sungkono


Setiap anak hidup utuh sepenuhnya (Yohanes 10:10b) dan setiap hati punya tekad untuk mewujudkannya. Sepenggal kalimat itu adalah gol utama Wahana Visi Indonesia. Sejauh mana kiprah mereka, dan apa yang bisa kita bantu?


Baru saja menamatkan SMP, Rasti (nama sengaja disamarkan) tak membayangkan apa-apa ketika ia melintas perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia Timur untuk bekerja. Yang ada di otaknya hanyalah harapan bahwa dengan begini, ia bisa membantu ayah ibunya menafkahi keluarga. Tak mampu berbuat banyak, di Kuching ia menjadi pembantu rumah tangga.

Ia tak menyangka, harapan dengan kenyataan ternyata bisa berseberangan. Yang ia dapatkan disana bukannya honor yang layak, melainkan siksaan dan kepahitan. Setelah berpindah-pindah majikan, majikannya yang terakhir malah memperkosanya. Sadar bahwa dirinya hamil, Rasti lari. Pulang. Usianya baru saja 16 tahun.

Lewat serangkaian pengalaman yang nyaris bagaikan keajaiban, Rasti kini kembali bersekolah di sebuah SMU di Singkawang. Bayi laki-lakinya ia relakan untuk diadopsi keluarga lain yang lebih mampu. Rasti mau belajar banyak hal agar bisa hidup lebih baik, dan dengan program anak asuh dari Wahana Visi Indonesia, ia bisa tersenyum: mimpinya mulai membentuk kenyataan.

Banyak sekali anak-anak yang perlu bantuan seperti Rasti. Tersebar di banyak daerah, hanya sedikit dari mereka yang terlayani, hanya karena tak ada yayasan lokal yang bisa menolong. Saat itu, di tahun 1996 ekonomi Indonesia cukup baik tapi donor masih banyak yang dari luar negeri. Sementara di Indonesia banyak orang berkecukupan yang rindu untuk mengulurkan bantuannya, hanya saja tak tahu kemana dananya harus didonorkan.

Kedua alasan tersebut mendasari berdirinya Yayasan World Vision Indonesia pada tahun 1996. Lalu pada tahun 1998, dibentuklah Yayasan Wahana Visi Indonesia yang benar-benar lepas secara legal dari World Vision, namun tetap menjadi mitra utamanya. Sejak itu, dua kegiatan besar WVI adalah beroperasi di lapangan sekaligus mengembangkan segala potensi sumber daya dalam negeri.

Pionirnya area development
Sejak gebrakan itu, WVI menggiatkan dirinya pada pembangunan area (area development). Pengembangan ini tak hanya berbasis desa-ke-desa, tetapi mencakup seluruh kabupaten. Biasanya, pihak WVI memilih tiga kecamatan untuk dibina intens. Suatu program pembangunan area direncanakan untuk berlangsung selama 15 tahun.

Karena harus akuntabel kepada donor, dan lagi banyak sumber daya yang akan fatal jika tidak ditangani langsung, WVI melakukan program pembangunan area ini tanpa diwakili pihak lain. Dengan begitu, pola kemitraan WVI dengan yayasan-yayasan lokal berubah. Tadinya sebagai penyalur dana, WVI kini turut campur tangan dalam kehidupan masyarakat lokal, otomatis menjadi mitra bagi LSM-LSM lokal (misalnya LSM kesehatan dan pendidikan).

Wahana Visi tidak menerapkan program yang seragam di semua area yang mereka kembangkan. “Gerakan kami selalu dimulai dari masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Sebelum merancang program, ada persiapan sosial yang makan waktu dua tahun. Bentuknya seperti pelatihan masyarakat sekaligus pengenalan WVI kepada mereka, termasuk membantu menemukan akar masalah yang mereka hadapi,” papar Eddy Sianipar, General Manager Yayasan WVI ketika diwawancarai getLIFE!.

Ia kemudian meneruskan, “Tak cuma itu, kami juga harus mendapatkan persetujuan dari masyarakat, pemerintah setempat, dan pemimpin-pemimpin agama. Kami mengajak mereka untuk menangani masalah, dimulai dari menyusun visi dan misi bersama, hingga teknis pelaksanaannya.”

Program jangka panjang yang besar itu lalu dipilah-pilah bersama menjadi gol-gol jangka pendek. “Dan, karena anak-anak adalah fokus utama WVI, kami selalu memastikan bahwa setiap program yang dijalankan ini bermanfaat langsung pada kehidupan anak-anak daerah itu.”

Solusinya harus holistik dan realistis
Untuk semua bidang permasalahan yang dihadapi penduduk setempat (terutama kaum anak), menurut Eddy solusinya tidak saja unik, tapi juga harus holistik. Untuk masalah pendidikan, misalnya, WVI tak hanya membantu penyediaan baju seragam dan buku-buku sekolah, tetapi juga melakukan pelatihan guru, menerapkan metode mengajar yang tepat, mengurus ketertiban kurikulum, sampai membayar uang sekolah anak-anak.

Isu kesehatan anak sudah tentu terdaftar dalam fokus utama WVI. Tiap-tiap daerah yang sedang dikembangkan pasti punya kesulitan berbeda: pengentasan kemiskinan yang parah, kelangkaan air bersih, rendahnya asupan gizi, epidemi penyakit, terhambatnya program imunisasi, dan masih banyak lagi. WVI aktif mengajak berbagai pihak setempat mengatasi setiap kendala ini.

Realistis. Itulah ciri yang cocok menggambarkan setiap program WVI. “Jika kami mau meningkatkan kesehatan anak, kami harus tahu dulu, bagaimana sih anak itu bisa dikatakan ‘sehat’ di penghujung program? Tidak ada lagi epidemi diare, tidak ada lagi yang busung lapar, misalnya. Kami selalu menyusun standar-standar yang dimonitor dan dievaluasi terus-menerus selama lima belas tahun oleh tim lapangan.”

Pusat-pusat pengembangan
Hingga penghujung tahun 2005, WVI telah merintis 29 pusat pengembangan area: sembilan di Papua, tujuh di Nusa Tenggara Timur, dua di Sulawesi, lima di Jakarta, dua di Surabaya, dan empat di Kalimantan Barat. ADP yang paling awal ada di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Usianya kini menginjak 10 tahun.

“Lima tahun lagi, ketika ADP usai, penduduk Banggai akan sudah mandiri. Kami lalu akan menyerahkan tugas-tugas kemasyarakatan selanjutnya pada LSM-LSM lokal,” ujar Eddy, seraya memperlihatkan peta Indonesia dengan titik-titik yang menunjukkan lokasi-lokasi ADP-nya. Seperti itulah nantinya masa depan semua daerah yang sedang dikembangkan WVI.

WVI mempekerjakan sekitar empat ratus orang di seluruh lahan operasionalnya, meliputi community development coordinator, petugas finansial, fasilitator, dll. Masing-masing petugas bertanggung jawab secara hierarkis, dan di ujungnya, koordinator tiap area rutin melaporkan setiap pertumbuhan dan masalah baru pada Program Officer (tiap-tiap wilayah), terpusat di Jakarta.

Tiga ADP: di Kota Merauke, pedalaman Merauke, dan Singkawang, sepenuhnya disokong donor lokal. Sementara 26 ADP sisanya masih harus mengandalkan pendanaan donor internasional (dari Kanada, AS, Jerman, Jepang, dan Hong Kong). “Kami ingin jumlah ADP yang bisa sepenuhnya didanai donor lokal bertambah,” harap Eddy.

Program Anak Asuh jadi andalan
Tersebar di 29 ADP itu, tak kurang ada 65 ribu anak asuh yang disantuni WVI. Program Anak Asuh inilah yang menjadi ujung tombak pelayanan WVI. Otomatis, dana WVI yang totalnya mencapai jutaan dolar pun paling banyak diserap disini.

Namun, tidak sepeserpun anak-anak ini terima secara cash. Semuanya ‘dicairkan’ dalam program-program pengembangan komunitas, perbaikan hidup, dan pendidikan. Namun, jumlah anak asuh yang disokong donor lokal ternyata masih sedikit: hanya sekitar tiga ribuan. “Orang Indonesia tidak biasa menjadi penyumbang jangka panjang,” keluh Eddy.

John Nelwan, Marketing Manager WVI, turut mengiyakan. “Mereka hanya mau menyumbang sesekali saja saat presentasi kami berhasil mengharukan mereka. Padahal kami berharap orang Indonesia bisa berperan lebih banyak dalam program penyantunan anak yang rutin, yang sebenarnya menjadi konsentrasi pokok ADP,” sahut John.

Bagaimanapun, uang bukanlah segalanya. Menurut John, para donor diharapkan tidak hanya sekedar mendukung dana, tetapi bisa membantu lebih jauh: masalah anak asuh satu demi satu harus bisa mereka pahami pula. Buat WVI, motivasi yang lebih dalam adalah menghubungkan anak asuh dengan donaturnya, salah satunya dengan laporan perkembangan anak tahunan.

“Kami mau menekankan aspek antarmanusia, bukan sekedar tindakan memberi uangnya itu. Dengan adanya laporan, sponsor jadi mengenali kesulitan anak, keluarga, dan masyarakatnya, sehingga sadar bahwa mereka memang benar-benar membutuhkan bantuan, dan semua kontribusi itu berguna,” ujar John.

Hingga kini, jumlah anak-anak Indonesia yang masih terbelenggu rantai kemiskinan tak berujung ada puluhan ribu. Apakah masa depan mereka nantinya akan suram, atau gemilang, sebagian tergantung kemurahan hati kita. Adakah secercah sukacita buat mereka, dari kita?** (CS)


Ingin Membuat Mereka Tersenyum?
Anda yang tergerak (semoga tidak hanya kali ini saja) untuk menghadirkan segaris senyum di wajah satu, dua, atau sepuluh anak asuh, atau ingin terlibat langsung memberikan tenaga bagi pelayanan WVI, silakan hubungi:
Wahana Visi Indonesia
HOS. Cokroaminoto 1
Jakarta Pusat 10350
(021) 3193-0244
idn_donor_relation@wvi.org

Sunday, November 27, 2011

Rahasia Pernikahan Seumur Hidup


Resep 1: God as the Foundation of Marriage


Kekuatan sebuah rumah ditentukan dari fondasinya begitu pula halnya dengan pernikahan.

Kalau Anda mengikuti berita terbaru dari Hollywood, maka Anda pasti sudah mendengar berita perceraian Jessica Simpson dan Nick Lachey beberapa bulan yang lalu. Pernikahan yang dianggap begitu ideal (sampai-sampai sempat menjadi tontonan reality show MTV berjudul “Newlyweds”) ternyata keropos fondasi dasarnya.

Fondasi adalah bagian yang tak kelihatan tapi merupakan yang terpenting dalam sebuah pernikahan. Karena itu, resep rahasia pertama yang akan dikupas oleh majalah getLIFE! bekerja sama dengan program radio I DO adalah fondasi pernikahan yang benar. Pernikahan Kristen tidak bisa tidak harus meletakkan Tuhan sebagai dasar. (Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Mazmur 127:1a) Tanpa Tuhan, pernikahan menjadi sia-sia. Arah dan tujuan pernikahan Kristen sudah ditetapkan dalam Firman Tuhan dan hanya ketika Anda taat pada Firman maka akan ada damai sejahtera dalam keluarga Anda.

Apa implikasi menjadikan Tuhan sebagai fondasi pernikahan?

Pertama-tama, pernikahan ini harus dilakukan oleh dua anak Tuhan yang seiman. 1 Petrus 2: 9 berkata: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.” Karenanya, janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan mereka yang belum di dalam Allah (2 Korintus 6:14). Pernikahan Kristen haruslah berpijak pada kebenaran ini. Lewat pernikahan, Allah hendak membentuk sebuah bangsa yang kudus di mana anak-anak yang dilahirkan kelak akan menjadi rekan Allah dalam menggarap dunia.
 
Kedua, pernikahan yang berfondasikan Tuhan berarti pernikahan yang monogami. Satu istri dan satu suami seumur hidup. Ketika membahas hukum bagi raja Israel, Ulangan 17: 17 mencatat perintah ini: “Juga janganlah ia mempunyai banyak istri, supaya hatinya jangan menyimpang.” Seorang laki-laki Kristen diperintahkan untuk menikmati hidup dengan satu istri saja. Terlepas dari alasan-alasan yang mungkin kedengaran mulia, poligami pada akhirnya selalu menyusahkan. Yakobus 1: 8 dengan tegas mengatakan bahwa orang yang mendua hati tidak akan tenang hidupnya. Tuhan tidak mengijinkan hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga. Hubungan segitiga yang ada dalam pernikahan seharusnya hanya antara suami, istri, dan Tuhan sebagai inisiator pernikahan itu sendiri.

Ketiga, pernikahan itu haruslah merupakan komitmen seumur hidup. 1 Petrus 3: 7 mengatakan bahwa istri adalah “teman pewaris dari kasih karunia” bagi para suami. Tuhan tidak mengenal istilah perceraian dalam kamus-Nya, Ia juga tidak mengenal istilah “pisah rumah”. Pernikahan berarti bersama-sama dalam kasih karunia, bukan sekedar selembar sertifikat yang disimpan di laci sementara dua orang yang namanya tercantum di sana sudah tidak mau lagi bertegur sapa.

Tuhan sebagai fondasi pernikahan juga telah menentukan peran yang spesifik bagi suami dan istri. Suami ditugaskan untuk menjadi kepala (bisa dibaca di Efesus 5: 22-33) sementara istri dipercaya untuk menjadi penolong (Kejadian 2: 18). Sebagai kepala, suami harus mencontoh Kristus dalam arti ia harus berkorban, menjadi pembela dan pelindung, serta menjadi pengarah rohani bagi keluarga. Sebaliknya, istri diharapkan dapat menjadi penolong seperti halnya Allah yang juga memiliki sifat serupa (baca Mazmur 42: 6 dan Yohanes 14: 16).

Hanya dengan melandaskan diri pada Tuhan maka sebuah pernikahan siap bertahan terhadap sebagai badai tantangan. Ini resep pernikahan bahagia yang paling  utama dan pertama. Resep selanjutnya dapat Anda ikuti di getLIFE! nomor depan.**(SL)

Saturday, November 26, 2011

Siapakah Jodohku? (PUISI)


Who's my Soulmate (Siapakah Jodohku)

Kristus, Tuhan, sejauh ini cintaku cuma cinta monyet, senyum-senyum sendiri memandangi si dia punya potret, tetapi tak lama kemudian ia pun ku coret, cinta monyet memang tidak awet....

Kini aku memohon kepada-Mu, Tuhan,
tolong supaya cintaku menjadi dewasa sungguhan,
bukan lagi senang-senang berpacaran,
melainkan mempertimbangkan teman hidup masa depan....

Ukuran bukan lagi wajah yang rupawan
atau rayuan yang menawan,
melainkan apakah dia punya kepribadian
dan bisa cocok seumur hidup sebagai pasangan.....

Belajar memasuki cinta dewasa ternyata susah,
harus bisa tidak menang sendiri dan berat sebelah,
bukan lari dari, melainkan belajar memecahkan masalah
dan mau minta maaf kalau bersalah......

Cinta dewasa berarti jujur terhadap dunia nyata,
masing-masing menampilkan diri tidak pura-pura,
menyimak sifat baik dan sifat buruk yang ada,
lalu menilai apakah tahan bersama dia seterusnya......

Aku harus belajar melihat dua puluh tahun ke depan,
ketika yang perlu bukan lagi pacar yang kasmaran,
melainkan dua insan berumah tangga yang setiawan,
berjiwa tanggung jawab, pengorbanan dan pengabdian.....

Cinta dewasa menuntut aku mawas diri,
apakah kualitas, kepribadian itu ada pada diri sendiri,
apakah aku mampu memberi diri,
bukan cuma minta dilayani melainkan mau melayani......

Cinta monyet mudah, namun cinta dewasa susah,
karena itu aku sering merasa gelisah.
Tolonglah aku mempercayakan diri dan berpasrah
bahwa Tuhan besertaku bertumbuh ke masa cerah......

Dampingilah aku bertumbuh ke kedewasaan,
Matangkan diriku untuk berperilaku kemitraan,
Tolong aku nanti membuat pilihan,
Tolong aku berkembang agar ada yang membuat aku jadi pilihan.....

Aku belum tahu siapa jodohku untuk berpasangan,
tetapi kupercaya bahwa seseorang sudah Kau tentukan,
namun ia masih sedang Kausiapkan,
Kaumatangkan dan Kaudewasakan.....

Sbab itu, pada pengaturan-Mu kupercayakan diri,
Engkau punya maksud indah dengan masa depan setiap pribadi, sehingga pergumulan hidup bukan kami hadapi seorang diri, melainkan bersama Engkau, Kristus, teman hidup sejati......




Tuesday, June 29, 2010

Beruang Kristen

LIFE!-JOKES

Beruang Kristen

Seorang ateis sedang berjalan di tengah hutan. Tiba-tiba, ia melihat seekor beruang yang sangat besar berjalan menuju dirinya. Jantungnya berdetak cepat ketika ia mulai berlari, sebelumnya akhirnya ia terjatuh ke tanah. Ia berusaha untuk bangkit kembali, tapi sebelum ia sempat berbuat banyak, beruang tersebut tampak sedang melayangkan lengannya untuk memukul dirinya.

Pada saat itu, tanpa disadarinya sang Ateis berteriak “Tuhan, tolong saya!”

Waktu pun segera berhenti. Hutan menjadi sangat sepi dan sebuah suara menggelegar terdengar dari langit yang terbelah “Hi anak manusia, selama ini engkau selalu menyangkal diriku. Apakah engkau mengharapkan Aku membantumu di saat-saat seperti ini?”

Sang ateis melihat ke langit dan berkata “Oh Tuhan, saya bersikap munafik jika saya meminta Engkau untuk memperlakukan saya sebagai orang Kristen. Tapi dapatkah saya minta Engkau untuk menjadikan beruang itu menjadi beruang Kristen?”

“Baiklah” kata suara itu. Keadaan pun kembali normal dan beruang yang tadinya hendak memukul sang ateis kini tiba-tiba mengambil posisi berdoa. Beruang itu menundukkan kepalanya dan berguman “Tuhan terima kasih untuk makanan ini yang telah Engkau berikan padaku.” **


MamaOla

Friday, June 25, 2010

Pria-pria Jomblo

LIFE-SINGLES

Pria-pria Jomblo

Pria yang menikah menempati ranking pertama sebagai mereka yang paling berbahagia. Wanita lajang menempati ranking kedua sebagai yang paling berbahagia, sedangkan wanita yang menikah menempati ranking ketiga. Ranking keempat (alias yang paling tidak berbahagia) adalah pria yang hidup melajang.

“Kesimpulan itu didapatkan dari suatu penelitian di Amerika Serikat” kata Dr. Miriam Adeney, seorang penulis buku dan pakar antropologi dari Seattle Pacific University, dalam suatu bincang-bincang santai dengan LIFEcrew.

Jika penelitian itu akurat, maka tidak heran jika banyak wanita yang kini memilih untuk hidup melajang. Di luar dekadensi moral yang ditampilkan oleh serial ‘Sex & the City’, ada satu pesan utama yang disampaikan oleh para wanita lajang yang jadi tokoh utama serial ini: kehidupan melajang itu asyik dan menarik, khususnya bagi wanita.

Laporan teranyar dari Biro Sensus Amerika pun membenarkan fenomena ini. Terjadi peningkatan jumlah yang cukup tinggi dari para wanita lajang yang berusia 20 hingga 44 tahun pada tahun 2000 dibandingkan dengan tahun 1970.

Cuma yang aneh bin ajaib, peningkatan jumlah pria yang melajang (alias pria jomblo – bahasa prokemnya) ternyata jumlahnya jauh lebih tinggi dari para wanitanya. Sebagai perbandingan, jumlah wanita berusia 25 – 29 yang tidak menikah pada tahun 1970 berjumlah sekitar 19% dan pada tahun 2000 meningkat jadi 39%. Sedangkan pria dengan usia yang sama pada tahun 1970 cuma berjumlah sekitar 15%, tapi pada tahun 2000 meningkat drastis menjadi lebih dari 50%. Perbandingan yang serupa terjadi pula pada pria-pria di usia 30 hingga 44 tahun.

Buat para pengusaha, ini berita baik karena para lajang ini menjadi target konsumen yang sangat potensial. Lagipula, 42% dari seluruh angkatan kerja Amerika saat ini adalah para lajang, baik pria maupun wanita.

MENGAPA PRIA MELAJANG?
Yang jadi pertanyaan sekarang, mengapa para pria jaman sekarang urung untuk menikah? Padahal katanya, orang yang paling tidak berbahagia adalah pria yang melajang. Fenomena ini bukan cuma terjadi di Amerika, tapi juga di negara-negara Asia seperti di Indonesia, termasuk di tengah kalangan Kristen.

Dalam suatu penelitian kecil yang dilakukan oleh LIFEcrews, ternyata ada beberapa alasan mengapa pria Indonesia, khususnya yang sudah berusia 30 plus tetap melajang. Untuk mudahnya, LIFEcrews melakukan pengkategorian tipe berdasarkan alasan-alasan tersebut:




1. Tipe Idealis
Sandi (34) - seorang pengusaha di Bandung termasuk dalam kategori ini. Sandi enggan menikah karena ia masih berangan-angan dapat bersanding dengan wanita tipe idealnya.

“Saya berharap agar saya tidak pernah kuliah di luar negeri. Jika dulu saya kuliah di Indonesia mungkin hidup jadi jauh lebih sederhana dan mungkin saat ini saya sudah mempunyai beberapa anak. Sekarang ini, saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai, bukan cuma sekedar menikah untuk memenuhi tuntutan orang tua dan masyarakat. Padahal untuk mendapatkan seseorang yang sesuai dengan kriteria itu, rasanya sulit sekali. Lagipula saya takut jika saya menikah dengan sembarang orang, saya akan menyakiti istri saya nanti karena saya sebetulnya punya harapan lain.

Saya pernah berpacaran dengan seorang wanita yang bukan tipe ideal saya. Pada suatu kali, saya bertemu dengan seorang wanita istri teman saya yang kebetulan merupakan tipe ideal saya. Dalam hitungan detik, pikiran saya berubah dan saya langsung ingin kembali menjalin hubungan dengan wanita yang jadi tipe ideal saya itu. Memang saat ini saya berdoa agar kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidup saya. Walaupun begitu, dalam hati kecil sich sebetulnya saya masih ingin mendapatkan seorang wanita yang sesuai dengan tipe ideal saya.”

2. Tipe Jomblo Murni
Tipe ini menganggap pernikahan bukan prioritas hidup. Ada yang beralasan karena ia ingin berkonsentrasi melayani Tuhan, tapi ada juga yang karena memiliki kesenangan tersendiri seperti hobi dan pekerjaan, yang tidak mau ditinggalkan.

Jason (36), seorang Indonesia yang bekerja sebagai Financial Staff di California misalnya, merasa dirinya lebih bahagia menjadi lajang. “Dengan melajang saya bisa lebih bebas jika ingin ikut kegiatan misi di luar kota. Atau jika mau mengikuti kegiatan pelayanan apa pun, saya bisa melakukannya dengan semau saya.”

Sementara itu Jimmy (32) terus terang mengatakan ia memang tidak mau menikah. Sarjana arsitektur yang menyandang S2 di bidang Seni Rupa ini juga mengaku lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melukis. “Buat saya, melukis adalah panggilan hidup.” kata Jimmy yang sehari-harinya tinggal di Bekasi ini.

Rasul Paulus pun kemungkinan besar termasuk tipe Jomblo murni. Yang paling menyedihkan adalah mereka yang sebetulnya termasuk ke dalam tipe ini, tapi terpaksa menikah karena tuntutan keluarga dan masyarakat. “Saya menikah bukan karena terlalu butuh pasangan hidup, tapi karena didesak terus oleh keluarga.” kata Hermawan (35), seorang insinyur sipil yang pekerjaannya mengharuskan ia harus sering bulak-balik antara Bandung dan Jakarta.


3. Tipe Desperado
Tipe seperti ini biasanya memiliki mata yang ‘jelalatan’ ketika sibuk mencari ‘mangsa’. Setiap ada ‘mahluk cantik’, pasti disatroni, tak perduli itu di gereja, di KKR atau di mall. Biasanya tipe ini cukup tahan banting.

Walaupun begitu, pria-pria tipe ini tidak perlu merasa malu. Ternyata, soal mata pria yang ‘jelalatan’ itu ada penjelasan ilmiahnya. Menurut Allan & Barbara Pease yang menulis buku “Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps”, wanita memiliki kemampuan penglihatan peripheral yang lebih lebar. Sehingga jika diumpamakan, mata wanita itu seperti kamera dengan lensa lebar (wide lens), sedangkan mata pria cenderung lebih terfokus seperti lensa tele yang memiliki kemampuan untuk melihat jauh. Jadi sebetulnya mata wanita pun bisa saja ‘jelalatan’, tetapi kemampuan alami mata wanita menyebabkan mereka jarang tertangkap basah ketika sedang ‘jelalatan’ (kasiaaaann dehh kaum pria...).

4. Tipe Belum PD
Pria tipe ini ingin menikah cuma tidak PD (percaya diri), sebelum mereka memiliki kemampuan keuangan yang mencukupi. “Kebutuhan hidup sekarang ini jauh lebih berat. Untuk menikah saya harus berpikir matang-marang. Saya tidak mau jadi seperti teman saya yang menikah tanpa punya bekal, sehingga akhirnya dilecehkan oleh keluarga mertua.” kata Doni (30) seorang karyawan di Bandung.

Mahluk Aneh Yang Jadi Sumber Rasa Kasihan
Yang disayangkan, pada umumnya gereja-gereja di Indonesia jarang yang berpikir untuk melayani para lajang ini secara khusus, baik lajang wanita maupun lajang pria. Buktinya, kebanyakan gereja-gereja cuma memiliki Komisi Wanita (yang isinya ibu-ibu yang sudah menikah), Komisi Pria (yang isinya para ayah) atau Komisi Pemuda (yang isinya pelajar SMA dan mahasiswa).

Sementara itu, mereka yang ada di luar kategori di atas jadi mahluk aneh yang seringkali terasing atau bahkan jadi sumber untuk dikasihani. Dalam beberapa kasus, mereka akan ‘kabur’ dari gereja tersebut dan mencari tempat lain yang dianggap lebih kondusif.

Hari (35), seorang manager keuangan PMA di Jakarta bercerita tentang kekesalannya
pada gereja tempat ia bertumbuh ketika kecil. “Setiap kali saya ke gereja itu, pertanyaan pertama yang diajukan para pengurus serta jemaat adalah “Kapan menikah?”. Akhirnya saya jawab saja “Ya, nanti April tahun depan. Kalau tidak begitu, mereka akan terus bertanya macam-macam dan saya sudah malas menanggapinya. Atau kalau saya sudah terlalu kesal karena ditanya-tanya terus, biasanya saya menjawab “Saya tidak mau menikah karena melihat contoh pernikahan kamu.” kata Harry sambil tertawa.

Sementara itu Jimmy mengatakan bahwa ia tidak pernah terlalu pusing dengan reaksi orang. “Saya selalu menjawab orang-orang yang menanyakan status perkawinan saya dengan jawaban singkat “saya tidak berencana untuk menikah”. Biasanya, orang-orang itu akan langsung terdiam seribu bahasa.” kata Jimmy.

Walaupun begitu, Jason mengaku ia suka merasa pusing setiap kali mudik ke Indonesia. Soalnya, orang-orang di sekitarnya yang niatnya mungkin baik, tapi jadi menyebalkan karena menjadikan dirinya sumber rasa kasihan.

“Kasihan ya kamu, pasti kesepian! Kadang-kadang saya ingin berteriak pada mereka “Mungkin saya yang harus kasihan pada kalian. Banyak dari kalian yang menikah cuma asal menikah saja tanpa memikirkan pendidikan buat anak, lalu rumah juga masih mengontrak dan hidup pas-pasan.” kata Jason dengan sengit.

** (Yusak Persada, GE)

Sunday, May 2, 2010

Michael W. Smith: LOVE AT THE FIRST SIGHT

Michael W. Smith:

LOVE AT THE FIRST SIGHT


I will be here for you…

Somewhere in the night

Michael W. Smith bukan nama yang asing buat banyak orang, terutama orang Kristen. Suaranya yang serak-serak enak, tampangnya yang ‘sedikit’ ganteng bikin banyak orang kesengsem. Di balik semua ketenarannya itu, ternyata Michael…

Michael Kecil


Lahir di akhir tahun 1957, Michael tumbuh sebagai seorang anak yang biasa-biasa saja di Kenova, AS. Orang tuanya mengarahkan dia untuk aktif di gereja sejak kecil, dan seperti banyak anak yang lain di sana, Michael senang sekali main baseball, selain hobbinya bermain piano. Bahkan  cita-citanya sejak kecil adalah untuk menjadi pemain baseball professional. Tapi makin hari, bakatnya di bidang musik makin menonjol, sehingga saat memasuki tahun pertama kuliah, tujuan hidupnya menjadi lebih jelas, sehingga ia memutuskan untuk melepaskan kuliah dan mengembangkan karir musiknya secara profesional.

Memburu Calon Istri


Sewaktu Michael bekerja di Benson Publishing Group sebagai seorang penulis lagu, ia sempat berkata, “Tuhan nggak usah melakukan apa-apa lagi untukku. Aku nggak membutuhkan kontrak rekaman lain, gaji yang lebih besar, seorang pacar apalagi seorang istri. Aku sudah punya segalanya. Aku bahkan dibayar untuk melakukan sesuatu yang aku sukai, inilah puncak hidupku”.

Suatu hari, seorang wanita berjalan melewati kantornya, namanya Deborah Kay Lewis. Michael terkejut sekali waktu melihat wanita itu, karena menurut dia, Deborah adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya.

Saat itu juga Michael menelepon ibunya. Ia mengatakan bahwa ia baru saja berjumpa dengan calon istrinya. Berita tiba-tiba itu membuat ibunya kebingungan, apalagi waktu ibunya menanyakan siapa nama si ‘calon istri’ itu, Michael menjawab bahwa ia belum tahu siapa nama wanita itu. “Aku baru akan berkenalan dengannya Bu, aku harus pergi sekarang untuk mencari tahu!” kata Michael sambil tergesa-gesa menutup telepon dan berlari keluar untuk memburu calon istrinya itu.

Akhirnya Michael berhasil menemui Debora ketika ia baru saja keluar dari …toilet! Mereka pun langsung berkenalan, bertunangan 2 minggu kemudian dan menikah 4 bulan setelahnya. Wah…tidak disarankan buat ditiru nich.

Meniti Karir


Tahun 1982 karir musik Michael makin terbuka lebar, terutama ketika ia diminta untuk menjadi pemain keyboard untuk Amy Grant (saat itu Amy sudah terkenal) sambil tetap menulis lagu bagi dirinya sendiri.

Manajer Amy Grant, Mike Blanton & Dan Harrell melihat bahwa Michael memiliki potensi yang sangat besar. Tapi saat itu tidak ada satu pun perusahaan rekaman Kristen yang mau mengotrak Michael, sehingga mereka terpaksa memutuskan untuk mendirikan perusahaan rekaman sendiri dan memulainya dengan Michael W Smith dan Kathy Troccoli. Album pertama Michael keluar di tahun 1983, dan sejak saat itu ia berhasil menelurkan 26 lagu hits dan memenangkan 34 Dove Award (penghargaan model Grammy Award untuk musik rohani).

Sampai hari ini Michael tetap melayani Tuhan lewat musiknya. Salah satu albumnya yang paling baru adalah ‘Worship’, yang meledak di AS karena banyak orang merasa mendapat ketenangan dan bertemu dengan Tuhan, setelah peristiwa runtuhnya WTC. Kalau ingin mendengar lagu-lagu lamanya, memang sudah jarang ada di pasaran. Tapi saat ini ada 2 album terakhir yang cukup ‘anyar’: The 1st Decade (sudah bisa dicari di toko rohani) dan The 2nd Decade (sudah keluar di tahun 2003 diharapkan akan segera dirilis di Indonesia oleh Aenon International yang dulu merilis album instrumentalnya juga). Kedua album ini adalah kumpulan lagu-lagu terbaik Michael W Smith selama 20 tahun pelayanannya. Rasanya tidak akan mengecewakan ** (Bloer). GETLIFE - www.inspirasianda.com

Saturday, April 24, 2010

Sejarah Agama-Agama di Jepang


  • Shinto: secara harafiah berarti “jalan dewa”.  Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Shinto dapat diklasifikasikan sebagai agama atau kepercayaan, karena tidak adanya kredo (pernyataan keyakinan seperti halnya ‘Pengakuan Iman Rasuli’ jika di Kristen), tidak memiliki kitab suci, serta tidak melakukan kegiatan penyebaran agama (kegiatan misi). Pada dasarnya, Shinto merupakan kepercayaan orang-orang Jepang dengan upacara-upacara ritualnya yang bersifat animistik dan berhubungan dengan keilahian alam dan manusia. Menurut kepercayaan Shinto, Jepang merupakan negara dengan dewa-dewa yang tak terbilang banyaknya. Awalnya, Shinto merupakan alat untuk memohon pertolongan pada dewa-dewa dalam usaha pertanian dan perlindungan dari hal-hal yang jahat. Sebelum PD II, Kaisar Jepang dipandang sebagai kepala negara dan keturunan langsung  dari dewa tertinggi Shinto, yaitu dewa matahari (Amaterasu Oomikami). Tetapi setelah PD II, Kaisar mendeklarasikan dirinya sebagai manusia biasa yang peranannya lebih sebagai simbol pemersatu rakyat Jepang. Menurut TV- NHK pada tahun  1981 pemeluk Shinto berjumlah 3 persent dari total populasi.



  • Budha: secara resmi masuk ke Jepang dari kerajaan Paekche (Kudara di Korea) tahun 538, walaupun ada yang mengatakan sebenarnya agama Budha telah masuk jauh sebelumnya yaitu pada abad ke-5 lewat jalur Cina tengah dari India. Setelah masyarakat Jepang mengkonsolidasikan diri menjadi satu negara, mereka dengan cepat mengadopsi ajaran Budha. Akibatnya,  filosofi agama Budha berpengaruh kuat pada budaya dan filosofi Jepang. Sejak akhir abad ke-6, ajaran Budha merupakan kepercayaan utama bagi keluarga kekaisaran dan ‘clan’ (suku) yang berkuasa. Pangeran Shoutoku (574-622) adalah penganut agama Budha yang sangat kuat. Sebenarnya agama Budha mengajarkan pada penganutnya agar berperilaku baik semasa di dunia ini, agar dapat mencapai kebahagiaan dan memperoleh keselamatan di alam sana. Tetapi di Jepang, penganut agama Budha mengalihkan filosofi itu ke dalam sejenis ‘teologia kemakmuran’ sehingga doa-doanya lebih menjadi permohonan agar untung dalam bisnis, rumah tangga yang aman, berhasil ujian masuk sekolah, dan lain sebagainya. Pada tahun 1996 tercatat 62 juta pemeluk agama Budha di Jepang.



  • Kristen Katolik: masuk ke Jepang pada pertengahan abad 16 ketika kapal dagang Portugis mendarat di Tanegashima, di bagian selatan pulau Kyushu tahun 1543. Satu group misionaris Katolik dari mazhab Jesuit yang dipimpin oleh Franciskus Xaverius menyusul pada tahun 1549 dengan datang ke Nagasaki. Setelah ini  agama Kristen Katolik menyebar dengan cepat, bahkan seorang tuan tanah (daimyo) terkenal yang bernama Omura Sumitada dan 25 orang bawahannya dibaptis menjadi Katolik tahun 1563. Di bawah pengaruh daimyo ini, penganut agama Katolik berkembang pesat, sampai kuil Budha Shuntoku diubah menjadi gereja Todos os Santos.


Tetapi kebebasan memeluk agama Kristen Katolik ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1587, Toyotomi Hideyoshi, penguasa Jepang yang berhasil menyatukan negeri di jaman Azuchi Momoyama, melarang masuknya agama baru ini, karena kawatir akan kekuatan pengaruhnya. Tekanan terhadap agama Kristen Katolik semakin keras ketika Jepang dipimpin oleh Jendral Tokugawa Ieyasu di jaman Edo. Klimaksnya adalah ketika terjadi peristiwa pemberontakan oleh kalangan Katolik di Shimabara tahun 1637 yang di pimpin oleh Amakusa Shiro Tokisada. Sejak saat itu, Tokugawa memerintahkan penutupan negara Jepang dari dunia luar.

  • Kristen Protestan, satu-satunya celah pintu kontak dunia luar yang diijinkan adalah dengan para pedagang dari Belanda dan China, tapi dibatasi hanya  di pulau Dejima dekat pantai Nagasaki yang luasnya cuma 15.000 meter persegi.  Pedagang-pedagang Belanda membawa pengaruh budaya Eropa seperti teknologi, terutama di bidang kedokteran. Pada saat inilah agama Kristen Protestan mulai masuk ke Jepang, walau pelarangan terhadap penyebaran agama Kristen tetap berlangsung sampai tahun 1873, ketika pemerintahan kaisar Meiji menghapus pelarangan itu. Semasa pelarangan ini, api iman Kristen tidaklah padam karena dipertahankan oleh sekelompok kecil masyarakat secara sembunyi-sembunyi.  (Slyvia T. Mihira)