Nyanyian yang Mengubah Sejarah
In age and feebleness extreme,
Who shall a helpless worm redeem?
Jesus, my only hope Thou art,
Strength of my failing flesh and heart,
O, could I catch a smile from Thee
And drop into eternity!
Lagu ini didiktekan oleh Charles Wesley, sang Pujangga Metodis kepada istrinya, sesaat sebelum sang pengarang menghembuskan nafasnya yang terakhir. Lagu terakhir ini melengkapi sekitar 6.500 lagu lainnya yang sudah ditulis seumur hidupnya.
Waktu itu Inggris sedang mengalami masa yang sulit. Korupsi dan kebejatan moral berlangsung dengan hebat. Revolusi industri baru dimulai sehingga terjadi perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Banyak orang tergoncang dan merasa tersingkirkan. Ketimpangan sosial terjadi dimana-mana. Sementara itu, ide-ide tentang pencerahan (enlightenment) dengan pandangan-pandangan yang menekankan rasionalisme, semakin populer.
Keadaan itu makin parah karena gereja menjadi dingin dan beku, tidak lagi memiliki antusiasme dan kehangatan. Belum lagi negara yang mengendalikan gereja dan membuatnya menjadi seperti panggung sandiwara.
Di saat seperti itulah, tepatnya tanggal 21 Mei 1738, Charles Wesley bertemu secara pribadi dengan Kristus. Pertemuan itu mengubah seluruh arti dan perjalanan hidupnya. Charles sadar bahwa selama ini ia hanya menjalankan kehidupan agamawi, tanpa mengenal Kristus secara pribadi sama sekali. Pada hari itu ia membuka Mazmur 40:4, “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.”
Tuhan menepati FirmanNya. Keesokan harinya Charles langsung menulis lagunya yang pertama, yang diberi judul “And Can It Be?”
Lama sudah terpenjara rohku
Erat terikat dalam dosa dan malam alam
Mataku mengabur sinar berkelebat
Ku terbangun, penjara membara oleh cahya
Rantaiku luruh, hatiku bebas
Ku bangkit, berjalan dan mengikut Dikau
Tuhan mengurapi lagu-lagunya itu sehingga menembus hati orang-orang yang putus asa, tersingkirkan, dan dari kelas bawah yang tidak terjamah oleh Gereja Inggris, yang saat itu lebih mementingkan penampilan luar seseorang. Pada saat bersamaan, John Wesley (kakak Charles) pun mulai meraih orang-orang ‘terbuang’ ini lewat khotbah-khotbahnya. Kakak-beradik ini berkhotbah dan bernyanyi kepada orang-orang di penjara, di pertambangan, dan di lapangan terbuka.
Sejarah mencatat bahwa lagu-lagu Charles Wesley membuat gerakan kebangkitan rohani pada abad 18 menjadi sangat efektif karena berhasil mengubah kehidupan banyak orang. Nyanyian menjadi alat untuk mengajar Firman Tuhan dan mengekspresikan sukacita seperti yang ditekankan oleh Marthin Luther. Para ahli sejarah memperkirakan, kalau orang-orang Inggris tidak dijamah dan disentuh oleh gerakan ini, bukan tidak mungkin revolusi berdarah di Perancis terjadi juga di Inggris!
Semoga Tuhan membangkitkan para komposer, musisi dan penyanyi yang dapat mengubah sejarah Indonesia. ** (Henry Sujaya)
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts
Wednesday, May 5, 2010
Saturday, April 24, 2010
Sejarah Agama-Agama di Jepang
- Shinto: secara harafiah berarti “jalan dewa”. Hingga saat ini masih terjadi perdebatan apakah Shinto dapat diklasifikasikan sebagai agama atau kepercayaan, karena tidak adanya kredo (pernyataan keyakinan seperti halnya ‘Pengakuan Iman Rasuli’ jika di Kristen), tidak memiliki kitab suci, serta tidak melakukan kegiatan penyebaran agama (kegiatan misi). Pada dasarnya, Shinto merupakan kepercayaan orang-orang Jepang dengan upacara-upacara ritualnya yang bersifat animistik dan berhubungan dengan keilahian alam dan manusia. Menurut kepercayaan Shinto, Jepang merupakan negara dengan dewa-dewa yang tak terbilang banyaknya. Awalnya, Shinto merupakan alat untuk memohon pertolongan pada dewa-dewa dalam usaha pertanian dan perlindungan dari hal-hal yang jahat. Sebelum PD II, Kaisar Jepang dipandang sebagai kepala negara dan keturunan langsung dari dewa tertinggi Shinto, yaitu dewa matahari (Amaterasu Oomikami). Tetapi setelah PD II, Kaisar mendeklarasikan dirinya sebagai manusia biasa yang peranannya lebih sebagai simbol pemersatu rakyat Jepang. Menurut TV- NHK pada tahun 1981 pemeluk Shinto berjumlah 3 persent dari total populasi.
- Budha: secara resmi masuk ke Jepang dari kerajaan Paekche (Kudara di Korea) tahun 538, walaupun ada yang mengatakan sebenarnya agama Budha telah masuk jauh sebelumnya yaitu pada abad ke-5 lewat jalur Cina tengah dari India. Setelah masyarakat Jepang mengkonsolidasikan diri menjadi satu negara, mereka dengan cepat mengadopsi ajaran Budha. Akibatnya, filosofi agama Budha berpengaruh kuat pada budaya dan filosofi Jepang. Sejak akhir abad ke-6, ajaran Budha merupakan kepercayaan utama bagi keluarga kekaisaran dan ‘clan’ (suku) yang berkuasa. Pangeran Shoutoku (574-622) adalah penganut agama Budha yang sangat kuat. Sebenarnya agama Budha mengajarkan pada penganutnya agar berperilaku baik semasa di dunia ini, agar dapat mencapai kebahagiaan dan memperoleh keselamatan di alam sana. Tetapi di Jepang, penganut agama Budha mengalihkan filosofi itu ke dalam sejenis ‘teologia kemakmuran’ sehingga doa-doanya lebih menjadi permohonan agar untung dalam bisnis, rumah tangga yang aman, berhasil ujian masuk sekolah, dan lain sebagainya. Pada tahun 1996 tercatat 62 juta pemeluk agama Budha di Jepang.
- Kristen Katolik: masuk ke Jepang pada pertengahan abad 16 ketika kapal dagang Portugis mendarat di Tanegashima, di bagian selatan pulau Kyushu tahun 1543. Satu group misionaris Katolik dari mazhab Jesuit yang dipimpin oleh Franciskus Xaverius menyusul pada tahun 1549 dengan datang ke Nagasaki. Setelah ini agama Kristen Katolik menyebar dengan cepat, bahkan seorang tuan tanah (daimyo) terkenal yang bernama Omura Sumitada dan 25 orang bawahannya dibaptis menjadi Katolik tahun 1563. Di bawah pengaruh daimyo ini, penganut agama Katolik berkembang pesat, sampai kuil Budha Shuntoku diubah menjadi gereja Todos os Santos.
Tetapi kebebasan memeluk agama Kristen Katolik ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1587, Toyotomi Hideyoshi, penguasa Jepang yang berhasil menyatukan negeri di jaman Azuchi Momoyama, melarang masuknya agama baru ini, karena kawatir akan kekuatan pengaruhnya. Tekanan terhadap agama Kristen Katolik semakin keras ketika Jepang dipimpin oleh Jendral Tokugawa Ieyasu di jaman Edo. Klimaksnya adalah ketika terjadi peristiwa pemberontakan oleh kalangan Katolik di Shimabara tahun 1637 yang di pimpin oleh Amakusa Shiro Tokisada. Sejak saat itu, Tokugawa memerintahkan penutupan negara Jepang dari dunia luar.
- Kristen Protestan, satu-satunya celah pintu kontak dunia luar yang diijinkan adalah dengan para pedagang dari Belanda dan China, tapi dibatasi hanya di pulau Dejima dekat pantai Nagasaki yang luasnya cuma 15.000 meter persegi. Pedagang-pedagang Belanda membawa pengaruh budaya Eropa seperti teknologi, terutama di bidang kedokteran. Pada saat inilah agama Kristen Protestan mulai masuk ke Jepang, walau pelarangan terhadap penyebaran agama Kristen tetap berlangsung sampai tahun 1873, ketika pemerintahan kaisar Meiji menghapus pelarangan itu. Semasa pelarangan ini, api iman Kristen tidaklah padam karena dipertahankan oleh sekelompok kecil masyarakat secara sembunyi-sembunyi. (Slyvia T. Mihira)
Subscribe to:
Posts (Atom)