MamaOla

Showing posts with label pasangan. Show all posts
Showing posts with label pasangan. Show all posts

Sunday, November 27, 2011

Rahasia Pernikahan Seumur Hidup


Resep 1: God as the Foundation of Marriage


Kekuatan sebuah rumah ditentukan dari fondasinya begitu pula halnya dengan pernikahan.

Kalau Anda mengikuti berita terbaru dari Hollywood, maka Anda pasti sudah mendengar berita perceraian Jessica Simpson dan Nick Lachey beberapa bulan yang lalu. Pernikahan yang dianggap begitu ideal (sampai-sampai sempat menjadi tontonan reality show MTV berjudul “Newlyweds”) ternyata keropos fondasi dasarnya.

Fondasi adalah bagian yang tak kelihatan tapi merupakan yang terpenting dalam sebuah pernikahan. Karena itu, resep rahasia pertama yang akan dikupas oleh majalah getLIFE! bekerja sama dengan program radio I DO adalah fondasi pernikahan yang benar. Pernikahan Kristen tidak bisa tidak harus meletakkan Tuhan sebagai dasar. (Jikalau bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya. Mazmur 127:1a) Tanpa Tuhan, pernikahan menjadi sia-sia. Arah dan tujuan pernikahan Kristen sudah ditetapkan dalam Firman Tuhan dan hanya ketika Anda taat pada Firman maka akan ada damai sejahtera dalam keluarga Anda.

Apa implikasi menjadikan Tuhan sebagai fondasi pernikahan?

Pertama-tama, pernikahan ini harus dilakukan oleh dua anak Tuhan yang seiman. 1 Petrus 2: 9 berkata: “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.” Karenanya, janganlah menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan mereka yang belum di dalam Allah (2 Korintus 6:14). Pernikahan Kristen haruslah berpijak pada kebenaran ini. Lewat pernikahan, Allah hendak membentuk sebuah bangsa yang kudus di mana anak-anak yang dilahirkan kelak akan menjadi rekan Allah dalam menggarap dunia.
 
Kedua, pernikahan yang berfondasikan Tuhan berarti pernikahan yang monogami. Satu istri dan satu suami seumur hidup. Ketika membahas hukum bagi raja Israel, Ulangan 17: 17 mencatat perintah ini: “Juga janganlah ia mempunyai banyak istri, supaya hatinya jangan menyimpang.” Seorang laki-laki Kristen diperintahkan untuk menikmati hidup dengan satu istri saja. Terlepas dari alasan-alasan yang mungkin kedengaran mulia, poligami pada akhirnya selalu menyusahkan. Yakobus 1: 8 dengan tegas mengatakan bahwa orang yang mendua hati tidak akan tenang hidupnya. Tuhan tidak mengijinkan hadirnya pihak ketiga dalam rumah tangga. Hubungan segitiga yang ada dalam pernikahan seharusnya hanya antara suami, istri, dan Tuhan sebagai inisiator pernikahan itu sendiri.

Ketiga, pernikahan itu haruslah merupakan komitmen seumur hidup. 1 Petrus 3: 7 mengatakan bahwa istri adalah “teman pewaris dari kasih karunia” bagi para suami. Tuhan tidak mengenal istilah perceraian dalam kamus-Nya, Ia juga tidak mengenal istilah “pisah rumah”. Pernikahan berarti bersama-sama dalam kasih karunia, bukan sekedar selembar sertifikat yang disimpan di laci sementara dua orang yang namanya tercantum di sana sudah tidak mau lagi bertegur sapa.

Tuhan sebagai fondasi pernikahan juga telah menentukan peran yang spesifik bagi suami dan istri. Suami ditugaskan untuk menjadi kepala (bisa dibaca di Efesus 5: 22-33) sementara istri dipercaya untuk menjadi penolong (Kejadian 2: 18). Sebagai kepala, suami harus mencontoh Kristus dalam arti ia harus berkorban, menjadi pembela dan pelindung, serta menjadi pengarah rohani bagi keluarga. Sebaliknya, istri diharapkan dapat menjadi penolong seperti halnya Allah yang juga memiliki sifat serupa (baca Mazmur 42: 6 dan Yohanes 14: 16).

Hanya dengan melandaskan diri pada Tuhan maka sebuah pernikahan siap bertahan terhadap sebagai badai tantangan. Ini resep pernikahan bahagia yang paling  utama dan pertama. Resep selanjutnya dapat Anda ikuti di getLIFE! nomor depan.**(SL)

Saturday, June 26, 2010

MISTER PEN: CUKUPKAH KALAU CUMA DUA INCI?

SEX-TALKS
Dokter HANDRAWAN NADESUL


MISTER PEN: CUKUPKAH KALAU CUMA DUA INCI?

Banyak suami yang bolak balik terobsesi untuk bertanya, “Berapa panjang itu sepantasnya, Dok? How long can we get?” Lalu mereka menjadi risau kalau banyak suara burung dan mitos di antara rekan sekerja sehingga membuat ribuan suami, atau mungkin juga lebih, tidak berani nekat kalau tiba saatnya terang-terangan memperagakannya tanpa pakaian dalam di depan istri. Sungguh ini lantaran sang Mr Pen dirasakan suami bukan sosok binaragawan sejati yang bisa dibanggakan apalagi dipamerkan. Bagaimana duduk perkara sebenarnya?

ADA dua kelompok suami di dunia yang sama-sama bisa dilanda kecemasan luar biasa kalau perkakas miliknya tidak sebagus roti Long John. Betul memang tidak perlu kelihatan manis, tapi kalau pendek seperti lidi korek api, apa tidak bikin para suami di dunia merasa perlu bunuh diri?
Para suami kelompok pertama merasa bahwa pada specification miliknya-lah terletak kemachoannya. Jika miliknya semakin king-size, semakin perkasa-lah jati kelelakiannya. Kalau cuma mini, bisa jadi ia gundah menghadapi malam pengantinnya, bahkan langsung minder dan sering kalah sebelum berperang. Padahal sungguh bukan bohong kalau di mata semua istri normal, citra Mr Pen sejati tidak perlu seperti itu.
Bahkan lebih banyak istri dan wanita normal yang justru kaget, dan sama sekali tidak kesemsem, kalau melihat betapa king-size-nya punya si Papi. Alih-alih semangat kewanitaannya bertambah, malah mungkin bisa bikin istri pingsan dan ciut hati. Bukan saja menyeramkan, Papi yang maxi sungguh tak diperlukan, karena spec. Mrs. V punya Mami memang tidak membutuhkan yang sekaliber itu.
Kelompok suami kedua, sudah normal, tapi masih selalu merasa kurang panjang juga. Sudah mondar mandir ke sinshe, tabib, dan sejenisnya, tapi masih saja kepingin ditambah – tapi tak kunjung bertambah juga padahal sudah rutin diganduli air seember setiap kali mandi pagi (memangnya otot tukang panco yang bisa bertambah besar dengan cara angkat beban?). Suami jenis ini pun sama-sama bukan reasonable people, bukan suami yang nalar seksnya jalan, oleh karena sudi buang waktu, tenaga dan uang bertahun-tahun cuma untuk merenungkan yang satu itu: “Kok nggak gede-gede, ya Dok!”
Pesona pria, dan loyalitasnya kepada istri bukan ditentukan oleh seberapa menakjubkannya ukuran si Papi. Bukan di situ pula letak kemachoan suami, melainkan bagaimana setiap suami dapat mengaduk-aduk hati pasangan hidupnya sehingga istri merasa hidupnya jadi berbunga-bunga.
Suami yang hebat di kamar istri, adalah kalau ia merasa seperti seorang Michael Schumacher yang kendati mobilnya cuma angkot namun tetap bisa number one. Tak perlu mimpi punya Formula Satu kalau menjadi sopir saja masih kagok. Buat istri, yang penting bukan apa mobilnya, hebatnya seks suami itu, tapi siapa yang menjadi sopirnya.
Mr Pen cukup hanya dua inci pada detik-detik hidupnya yang paling bersemangat. Toh kata filsuf seks, yang ideal itu adalah yang tidak terlampau besar untuk bisa memasuki pintu kamar, tapi juga tidak terlalu kecil agar mudah mencarinya kalau hilang di kebun.
Cukup dua inci karena apa yang dijuluki G-Spot istri berada kurang dua inci dari kedalaman Mrs. V. Kita tahu G-Spot itu daerah di saluran Mrs. V yang paling peka, yang rangsangan dan keberadaannya tak lebih dari setelunjuk saja kedalamannya.
Makanya, tak perlulah repot-repot membungkus Mr Pen pakai perban, atau menyambungnya pakai penggaris untuk menempuh daerah paling peka pada wanita itu. Ukuran setelunjuk sudahlah cukup. Soalnya Mr Pen paling mungil sekalipun sudah bisa menunaikan tugasnya dengan sempurna. Tidak percaya? Tanya saja pada Bill Clinton.
Buat semua suami, diingatkan pula untuk jangan sekali-kali iseng pakai kaca pembesar mencari ke kolong-kolong istri apa betul ada tulisan G-Spot di saluran Mrs V, sebab pasti tidak bakal ketemu. Bintik G itu cuma titik imajiner yang tak terlihat mata dan yang merupakan batas arena agar bisa memberi istri rasa sejahtera kalau Mr Pen.lagi kepingin mengamuk. Tak perlu lebih dalam lagi, karena memang tak ada gunanya.
Mengamuk sampai jauh ke pedalaman istri malah bisa merusak suasana, cuma bikin istri mengaduh, bisa jadi menjerit bukan lantaran takut, tapi karena nyeri tak terperi. Mungkin bisa sampai berdarah-darah, sehingga membutuhkan perawatan luka, bahkan sampai perlu dijahit akibat luka pasca-senggama. Alih-alih enak, malah bikin trauma seks istri seumur hidup. Malapetakan, bukan?
Berepot-repot diri mimpi kepingin sebesar punya kuda bisa berisiko menambah petaka suami. Banyak teknik yang serius maupun yang dusta, sukar diterima akal medis, yang memberi banyak janji tanpa bukti, namun bisa bikin celaka. Kalau terlalu besar juga ribet bawanya, dan susah pula cari celana Hings ukuran maxi.
Hati-hati juga jika Mr Pen suka disedot vakum secara rutin oleh Sinshe supaya bengkak. Bisa putus lho pembuluh darahnya. Pembuluh darah di daerah ini bersifat buntu, sehingga jika rusak akan mengakibatkan kematian jaringan yang diberinya makan. Mr Pen yang rusak pembuluh darahnya menjadikannya cemberut seumur hidup, alih-alih bisa sempurna menunaikan tugas.
Jadi, tidak perlu-lah mimpi ingin membesarkan Mr. Pen semata wayang Anda. Tidak perlu juga dilatih dengan cara angkat beban seperti calon tukang panco. Tak perlu dipijat, diurut, atau masuk pelatnas tinju. Buat yang kebetulan mungil, terima saja apa adanya, sebab konon kata sahibul hikayat, justru yang kecil cabe rawit itu yang digemari banyak wanita bule, dan tentu kebahagiaan istri bukan di situ semata singgahnya.
Lalu di manakah kebahagiaan perkawinan itu bisa kita temukan?
Rumah perkawinan mudah goyah kalau seks semata yang jadi fondasinya. Seks cuma tiang kecil pondok perkawinan kita, sekadar pelengkap, bukan tujuan perkawinan. Karena itu jangan andalkan seks kalau yang kita nantikan adalah kebahagiaan yang lebih besar. Kebahagiaan perkawinan lebih ditentukan oleh tepat tidaknya kita memilih teman hidup.
Teman hidup tepat dipilih kalau itu buah dari bimbingan Roh Kudus. Karena itu jangan pernah mengandalkan rasa kedagingan, yang bisa membuat kita sesat ketika menentukan teman hidup terpilih yang Tuhan kehendaki. **
________________________________________________________________________


What WOMEN WANT
Empat dari lima wanita Inggris yang ditanya dalam ‘National Sex & Relationship Survey 2002 ‘ mengatakan bahwa “kasih sayang, perhatian dan pelukan” adalah hal utama yang paling diinginkan dalam sebuah hubungan cinta. Hanya satu dari lima yang mengatakan ‘seks” sebagai yang terpenting..
Dua pertiga dari 2000 wanita yang ditanyai dalam jajak pendapat tersebut juga mengatakan mereka memilih berhubungan seks di dalam ikatan pernikahan. Hanya 22% yang memilih untuk berhubungan seks di luar pernikahan. Hal ini ditanggapi secara positif oleh banyak kalangan mengingat masyarakat Inggris terkenal cukup liberal.
“Ini menunjukan para wanita di Inggris membutuhkan rasa aman dan kasih sayang untuk bisa melakukan hubugan seks dengan baik.” kata seorang pengamat dalam thisislondon.com.
Hal senada diungkapkan Ev. Hellen Pratama, pengerja GKI Anugerah Bandung. “Pendekatan wanita memang berbeda dengan laki-laki. Bagi wanita, untuk bisa doing sex dengan baik, relationship harus beres dulu. Kalau laki-laki ‘khan bisa melakukannya tanpa harus berdasar pada suatu relationship yang baik.” kata Ev. Hellen yang juga istri hamba Tuhan dari gereja yang sama.
Menurut Ev. Hellen, kebanyakan kasus hubungan keluarga yang dikonsultasikan kepadanya berkisar soal hilangnya respek istri pada suami atau sebaliknya, suami yang kehilangan kasih sayang kepada istrinya. “Buat wanita, kebutuhan untuk bisa respek ini mendasar. Jika dia tidak bisa respek tapi dipaksa untuk melakukan hubungan seksual, dia akan merasa seperti dimanfaatkan.” **











MamaOla

Tuesday, May 4, 2010

Kebiasaan Buruk Pasangan

KEBIASAAN BURUK PASANGAN


Shalom Pak Daniel & Ibu Lydia,

Kami berencana untuk menikah 3 bulan yang akan datang. Calon suami saya memiliki satu kebiasaan buruk yang tidak saya sukai, dan saya sudah berulang kali menyatakannya, namun ia tidak pernah lepas dari kebiasaan tersebut. Apa yang harus saya lakukan untuk menghadapinya?

Terima kasih untuk saran yang akan Bapak dan Ibu berikan. Tuhan memberkati.

Salam

Ha, Jakarta

Jawaban Daniel& Lydia Kurnia:

Shalom juga,

Sebelumnya kami mau bertanya dulu, apa kebiasaan pasangan Anda yang tidak Anda sukai itu? Ini pertanyaan pertama yang perlu diajukan kepada diri sendiri. Apabila kebiasaan itu merupakan dosa, atau membawanya jauh dari Tuhan, wajar bila Anda menuntutnya untuk berubah. Tapi sayangnya, seringkali yang terjadi bukan seperti itu, dan hal ini menyebabkan banyak pasangan menghadapi masalah yang malah makin rumit.

Tanpa disadari, kita sering menginginkan supaya orang yang kita cintai mempunyai sifat-sifat baik yang ada pada diri kita. Tidak selamanya keinginan ini merupakan hal yang buruk, kecuali bila kita lupa bahwa pasangan kita adalah pribadi yang unik dan sangat berbeda dengan kita.

Konflik banyak terjadi waktu seseorang berusaha mengubah orang lain menjadi seperti dirinya, betapapun baiknya dirinya itu! Apalagi kalau di dalam proses ‘mengubah’ pasangannya itu, dia sampai marah-marah. Yang sering menjadi masalah dalam pernikahan ataupun masa ‘pacaran’ adalah ketika kita sangat ingin mengubah pasangan kita menjadi orang lain, tanpa diimbangi dengan kesediaan dan kerelaan untuk menerima pasangan kita itu apa adanya.

Kunci untuk mengatasi hal ini adalah komunikasi yang baik. Berkomunikasi bukan hanya menyampaikan apa yang kita sukai dan yang tidak kita sukai, tetapi termasuk juga mendengarkan dan memahami pasangan kita. Mungkin ia sedang merasa frustasi dan perlu dukungan untuk  lepas dari kebiasaan buruknya.

Selain itu, komunikasi yang baik juga bukan cuma soal pemilihan kata-kata yang baik dan tepat untuk disampaikan, ataupun telinga yang siap mendengarkan, tapi perlu didukung juga oleh cara, waktu, suasana dan tempat yang tepat. Ini sangat penting supaya pembicaraan kita dapat membuahkan hasil yang baik, sebab: “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti apel emas di pinggan perak.” **



Tips bulan ini:

Bagaimana mengatasi perbedaan?

  1. Kenali dan komunikasikanlah perbedaan yang ada di antara Anda dengan pasangan Anda.

  2. Belajarlah untuk menerima perbedaan tersebut apa adanya.

  3. Tidak semua perbedaan harus dihilangkan, tetapi semua perbedaan harus dikelola.

  4. Apabila Anda yang justru perlu diubah, mintalah bantuan pasangan Anda untuk melatih agar Anda bisa berubah.

  5. Apabila  pasangan Anda yang perlu ditingkatkan untuk mengatasi perbedaan tersebut, latihlah dia dengan sabar agar bisa berubah.

  6. Bila tidak dapat mengatasi suatu persoalan dengan tanpa melibatkan orang lain, pilihlah seorang yang dapat Anda percayai untuk membantu. Berbagi pengalaman dengan seseorang seringkali dapat menolong kita menemukan jalan keluar yang baik  (GETLIFE - www.InspirasiAnda.com)















Daniel & Lydia Kurnia adalah pendiri lembaga “Sahabat Keluarga” yang akan melayani para pembaca GetLIFE! sebagai konselor untuk berbagai masalah seputar keluarga dan pernikahan. Layangkan email Anda ke <konsultasi@sahabat-keluarga.com>

Thursday, April 22, 2010

Soulmate: Ketika Pria dan Wanita Memilih Pasangan

Mitos 1: “Penampilan seorang laki-laki sama sekali tidak penting buat perempuan ketika memilih pasangan. Kalau laki-laki itu baik dan gigih, mau bagaimana pun penampilannya, semua perempuan pasti akan luluh  hatinya.”

(apalagi kalau ia datang naik mobil mewah dan setiap kali bertandang tidak lupa membawa oleh-oleh)

Mitos 2: “Buat laki-laki, prinsipnya adalah dari mata turun ke hati. Jadi kalau mereka memilih pasangan, pasti mereka akan mencari yang cantik karena buat mereka penampilan adalah kriteria nomer satu.”

(karena itu kosmetik pemutih kulit, krim anti kerut, dan obat pelangsing tubuh laku keras di pasaran)

Mitos 3: “Bagi perempuan, lebih baik dicintai daripada mencintai. Seiring berjalannya waktu, perempuan bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai laki-laki yang tadinya tidak ia sukai. Sementara sekali laki-laki menyukai seorang perempuan, selamanya ia tak akan berubah. Begitu pula sebaliknya, jika sejak awal ia tidak menyukai seseorang, ia tak akan pernah bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai orang itu.”

(No comment untuk yang satu ini. LIFEcrew pun sampai  TERKAGET-KAGET mendengarnya)

Diakui atau tidak, kita hidup dalam sebuah dunia yang dipenuhi mitos perbedaan laki-laki dan perempuan, termasuk ketika mereka memilih pasangan. Ada banyak mitos beredar mengenai perbedaan kriteria pasangan yang dicari oleh laki-laki dan perempuan. Sebagian kedengaran cukup logis, sebagian memancing senyum geli dan sebagian lagi menyebabkan kening berkerut dan nada suara meninggi, “Siapa bilang perempuan beranggapan seperti itu?” atau “Tidak semua laki-laki begitu. Aku tidak begitu!”

Untuk menggali lebih jauh mengenai perbedaan prioritas yang dicari laki-laki dan perempuan dari pasangannya, LIFEcrew telah menyebarkan angket kepada seratus empat orang responden laki-laki dan sembilan puluh delapan responden perempuan di Bandung dan Jakarta dengan usia antara 21 sampai 35 tahun. Responden diminta memilih kriteria-kriteria apa saja yang dianggap paling penting dalam memilih pasangan. Selain itu redaksi juga sempat melakukan bincang-bincang santai sambil minum teh sore dengan beberapa anggota kelompok Paduan Suara kontemporer “Glorify The Lord Ensemble(GTLE) di sebuah café di kota kembang Bandung, untuk mendiskusikan hasil angket tersebut.

RUBRIK ADAM


Dari hasil angket yang disebarkan kepada 104 responden kaum Adam diperoleh kesimpulan bahwa kriteria yang paling penting bagi laki-laki ketika memilih pasangan adalah sebagai berikut:

1. iman

2. penampilan dan sikap

3. kesamaan minat

4. level intelektualitas

5. level sosial ekonomi

Sambil bincang-bincang santai dan minum teh sore di sebuah café, Ivan Saba Jr (24) dan Tunggul (23) dari kelompok GTLE mencoba menganalisa urutan yang muncul dia atas.

  • 93 % responden menyatakan bahwa iman kerohanian adalah kriteria yang paling krusial dalam menentukan pasangan


“Itu memang kriteria nomor satu,” kata Ivan tanpa ragu-ragu, ”Harus satu iman dan satu agama.” Ivan yang sore itu tampil kasual dengan handuk putih membungkus kepalanya (supaya praktis tapi tetap trendy, akunya) menegaskan bahwa iman yang sama adalah fondasi untuk membangun sebuah hubungan yang kokoh. “Terutama untuk ke depan kalau nanti kita punya anak, misalnya,” tambah laki-laki yang berprofesi sebagai musisi itu. Rekannya, Tunggul (23), seorang mahasiswa, lebih menekankan pada efek dari kerohanian itu sendiri. “Kalau di dalamnya bagus, pasti di luarnya pun bagus. Jadi level kerohanian seseorang pasti kelihatan dari tingkah lakunya.”

  • 46 % responden memilih penampilan dan sikap


“Yang penting adalah cara pembawaan dirinya dia sehingga di mana pun dia berada bisa membawa suasana jadi menarik,” jelas Tunggul yang merasa kurang PeDe kalau jalan dengan orang yang tidak bisa bawa diri. “Penampilan yang enak dilihat itu penting tapi lebih penting lagi suasana yang nyaman,” Tunggul menambahkan sambil menyebut kriteria perempuan idealnya adalah yang proporsional. Ivan cenderung menyukai perempuan yang matang dan keibuan. “Sebetulnya pembawaan diri yang paling berpengaruh,” Ivan menegaskan kembali apa yang baru dikatakan Tunggul. “Misalnya, kalau musimnya makan di warteg, dia harus bisa makan di warteg. Tapi kalau harus makan di acara resmi, dia juga menguasai table manner.”

  • 38 % responden memilih kesamaan minat dan interest


“Dengan memiliki kesamaan minat dan interest, lebih gampang untuk kita fokus ke depan,” Ivan menjelaskan alasannya menempatkan kriteria ini sebagai nomor tiga terpenting, “Kalau minat kita beda, kemungkinannya kecil untuk bisa langgeng.” Minat pada seni adalah prasyarat yang mau tidak mau mesti dimiliki jika ingin menjadi pasangan Ivan. Hampir berkebalikan 180%, Tunggul justru menginginkan pasangan yang minat dan interest-nya sama sekali berbeda. “Kalau sama, malah bisa jadi jenuh. Aku selalu ingin tahu tentang hal-hal lain jadi kalau pasanganku punya minat dan interest yang beda, kita bisa sama-sama saling belajar hal baru.”

  • 34 % responden memilih kesetimbangan level pendidikan dan intelektualitas


“Cerdas berarti dia tahu bagaimana harus bersikap, punya cara berpikir yang dewasa dan bisa mengerti keadaanku,” Tunggul menguraikan jawabannya dengan lancar sementara Ivan mengaku tidak punya standar level pendidikan untuk pasangannya, “Yang penting wawasannya luas. Orang  yang berpendidikan belum tentu memiliki wawasan yang luas. Aku lebih suka ngobrol dengan lulusan SMP atau SMA tapi tahu banyak daripada lulusan universitas yang tidak tahu apa-apa.”

“Justru orang yang kerjanya sekolah melulu itu sepertinya adalah orang yang takut menghadapi dunia riil, kalau menurut aku lho,” tambah Tunggul lagi.

Ø  Dan hanya 15 % responden memilih kesetimbangan level sosial ekonomi


“Asal pasanganku mau hidup biasa-biasa, tidak ada masalah,” kata Tunggul yang tidak keberatan jika pasangannya punya penghasilan lebih tinggi selama hal itu tidak menjadikannya bersikap sok hebat. Untuk Ivan, yang penting pasangannya mau menerimanya apa adanya. “Tidak masalah kalau ternyata dia datang dari keluarga yang jauh lebih kaya dibanding aku,” kemudian sambil tertawa ia menambahkan, “Bukannya malah bagus?”

RUBRIK EVE


Sementara hasil angket kaum Hawa menampilkan perbedaan prioritas yang menjadi bahan perbincangan yang menarik di antara para anggota perempuan GTLE yang berkumpul sore itu: Santi (21), Nesti (27), Grace (30) dan Intan (27).

Prioritas kriteria seorang perempuan ketika memilih pasangan menurut hasil angket adalah sebagai berikut:

1. iman kerohanian

2. penampilan dan sikap

3. level intelektualitas

4. kesamaan minat

5. level sosial ekonomi



  • 89 % responden memilih iman kerohanian sebagai kriteria yang paling penting ketika menentukan pasangan.


Keempat gadis cantik ini dengan suara bulat mendukung pilihan pertama hasil angket yang diperoleh Get LIFE. “Tidak bisa ditoleransi, pasanganku harus anak Tuhan yang paham bahwa hidup ini adalah kasih karuniaNya,” kata Emmanuela Chrisanti Asterina Abednego yang akrab dipanggil Santi ini. Pendapat Santi didukung oleh rekannya, Yunesti Nugraheni Tyaswati yang sangat mementingkan kesamaan visi dan misi dalam membangun rumah tangga. “Pernikahan itu, kan buat selama-lamanya. Bagaimana bisa tahan kalau visi dan misinya beda?” Lebih lanjut Nesti menambahkan, “Punya pasangan yang seiman juga akan mengurangi resiko hal-hal buruk di kemudian hari, misalnya perceraian.” Sementara Intan yang berstatus mahasiswi percaya bahwa Firman Tuhan adalah landasan untuk membangun hubungan yang sehat.

  • 68 % responden memilih penampilan dan sikap


Grace yang berprofesi sebagai wiraswastawati berargumen bahwa penampilan yang dimaksud di sini bukan wajah atau fisik seorang laki-laki tapi lebih ke arah bagaimana ia bertingkah laku, berbicara, dan berpenampilan. “Cara ia berpakaian misalnya,” kata Grace, “bisa menunjukkan apakah ia memperlakukan dirinya sendiri dengan seenaknya atau ia bisa menghargai diri.” “Dan lewat cara bicaranya, kita bisa tahu bagaimana ia berhubungan dengan orang lain,” tambah Intan. Untuk Santi, pria idealnya haruslah seseorang yang tingkah lakunya mencerminkan teladan Yesus dan bisa menjadi berkat buat orang lain. “Tampang dan penampilan fisik, sih tidak masuk hitungan,” tambahnya yang dibenarkan oleh ketiga rekannya meskipun sambil tertawa akhirnya Grace mengakui bahwa cukup sulit baginya untuk menyukai seorang laki-laki yang tidak memenuhi kriteria idealnya: tinggi, putih, dan bertampang oriental.



  • 57 % responden memilih kesetimbangan tingkat pendidikan dan intelektualitas




Wawasan yang luas ternyata menduduki posisi yang lebih penting dari pada gelar akademik. “Mau lulusan SMP pun tidak masalah, asal cerdas,” kata Intan. “Selama orangnya punya wawasan dan nyambung kalau diajak bicara, titel akademik tidak masalah,” kata Santi yang menyukai laki-laki yang suka membaca. Tapi setelah dikorek lebih lanjut, ia dan Nesti mengakui bahwa pasangan mereka minimal harus lulusan S-1. “Kesannya aneh kalau pasanganku level pendidikannya kurang dari D-3,” Nesti mengakui sambil tertawa renyah. Sementara untuk Grace, pasangannya haruslah seseorang yang wawasan dan level pengetahuannya di atas dia, “Saya harus bisa look up to him karena saya orangnya suka bertukar pikiran dan senang mendapat masukan.”

  • 46 % memilih kesamaan minat dan interests


“Pokoknya pasanganku harus punya minat pada musik,” tegas Santi, “Kalau tidak, aku tidak mungkin jadian dengan dia.” Sementara Intan berharap mendapatkan pasangan yang punya hobi travelling dan punya kecintaan besar terhadap anak-anak muda seperti dirinya. Impiannya adalah melakukan pelayanan untuk anak-anak muda di berbagai kota bersama pasangannya. “Jadi bisa setahun di sini, setahun di sana,” katanya dengan mata berbinar,” Pastinya pasangan saya harus orang yang punya panggilan pelayanan yang sama dan berjiwa petualang.”

Grace mencari pasangan yang menyukai seni dan olahraga. “Rasanya aneh, ya, kalau cowok tidak suka olah raga,” cetusnya. Tapi buat Grace, masalah minat dan interest ini bukan hal yang terlalu krusial. “Kita, kan harus belajar menikmati kesenangan masing-masing. Saya akan mengajak dia olah raga dan menikmati seni, itu toh tidak ada ruginya. Tapi saya juga akan belajar menikmati apa yang dia suka, mengoleksi perangko misalnya.”

  • Dan 21 % menyatakan kesetimbangan level sosial ekonomi


Keempatnya sepakat menempatkan kriteria ini sebagai yang paling tidak penting dibandingkan kelima kriteria lainnya. Intan mengakui bahwa orang tuanya sempat mengingatkan bahwa sebaiknya ia memilih pasangan yang level ekonominya seimbang. “Jangan yang lebih kaya,” katanya, “jadi kita bisa saling menghargai.” Sementara Grace justru berharap tidak mendapat pasangan yang level sosial ekonominya lebih rendah. “Kasihan, kan, dia sebagai laki-laki kalau di-look down.” Tetapi mengenai pemenuhan kebutuhan atau jumlah penghasilan, hal itu sama sekali bukan masalah. “Yang penting punya niat untuk maju dan mau bekerja keras,” kata Santi meskipun ia mengakui bahwa ia juga mempertimbangkan faktor lingkungan sosial di mana pasangannya tumbuh dewasa. Dan Intan menutup bincang-bincang yang menyenangkan itu dengan mengingatkan, “Kita tidak usah kuatir untuk masalah finansial, Tuhan pasti akan mencukupkan segala kebutuhan kita.” ** (SL)