MamaOla

Showing posts with label mitos. Show all posts
Showing posts with label mitos. Show all posts

Saturday, May 1, 2010

MISTER PENIS: CUKUPKAH KALAU CUMA DUA INCI?

MISTER PEN: CUKUPKAH KALAU CUMA DUA INCI?


Antara Mitos & Kenyataan



Oleh: dr. Handrawan Nadesul

Kebahagiaan yang sudah Tuhan sediakan di depan mata seringkali hancur hanya karena kita mengikuti mitos-mitos yang salah. Banyak suami yang begitu terobsesi sehingga bolak balik bertanya, “Berapa panjang itu seharusnya, Dok? How long must we get?” Mereka risau karena banyak suara burung dan mitos di antara rekan sekerja yang membuat ribuan suami, mungkin juga lebih, jadi tidak percaya diri lantaran sang Mr Pen dirasakan bukan sebagai sosok binaragawan sejati yang bisa dibanggakan di depan istri. Benarkah?



Konon, ada dua tipe suami yang sama-sama bisa dilanda kecemasan luar biasa kalau perkakas miliknya tidak sebagus roti Long John, tapi pendek seperti lidi korek api:

Tipe 1: Mini-Me

Suami tipe ini sering gundah karena Mr. Pen-nya berukuran mini. Ia tertekan ketika menghadapi malam pengantin.  Padahal, percayalah, di mata semua istri normal, citra Mr Pen sejati tidak perlu seperti itu. Justru ada banyak istri yang menjadi kaget dan sama sekali tidak kesemsem, kalau melihat betapa king-size-nya punya si Papi. Bukan saja menyeramkan, tapi juga tidak diperlukan, karena spec. Mrs. V punya Mami memang tidak membutuhkan yang sekaliber itu.

Tipe 2: Maxi-Me

Suami tipe ini sebetulnya punya Mr. Pen yang sudah normal, tapi masih selalu merasa kurang panjang juga. Tipe ini sudi buang waktu, tenaga dan uang bertahun-tahun untuk mondar mandir ke sinshe dan tabib, bahkan sampai menggandulinya dengan air seember setiap kali mandi pagi (memangnya otot tukang panco yang bisa bertambah besar dengan cara angkat beban?).

Pesona pria


Sebetulnya, pesona pria dan loyalitasnya kepada istri bukan ditentukan oleh seberapa menakjubkannya ukuran Mr. Pen. Soalnya, memang bukan di situ letaknya kemachoan seorang suami. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap suami dapat mengaduk-aduk hati pasangan hidupnya dengan perhatian, cinta, dan pengertian yang diberikan dengan tulus dan segenap hati.

Suami yang ‘hebat’ adalah yang dapat merasa seperti seorang Michael Schumacher, yang kendati mobilnya cuma angkot, namun tetap bisa number one. Tak perlu mimpi punya Formula Satu kalau menjadi sopir saja masih kagok. Lagipula buat kebanyakan istri, yang terpenting bukan apa mobilnya (kehebatan seks suami), tapi lebih kepada pribadi si sopir.

Karena itu Mr Pen cukup berukuran dua inci  saja pada detik-detik hidupnya yang paling bersemangat, karena G-Spot istri pun berada tidak sampai dua inci dari kedalaman Mrs. V.  Kita tahu, G-Spot itu adalah titik imajiner kasat mata yang ada di daerah di saluran Mrs. V.  G-Spot ini sangat peka pada rangsangan dan kedalamannya tak lebih dari setelunjuk saja. Jadi benar juga kata filsuf seks: “yang ideal itu adalah yang tidak terlampau besar untuk bisa memasuki pintu kamar, tapi juga tidak terlalu kecil agar mudah mencarinya kalau hilang di kebun”.

Lagipula, mengamuk sampai jauh ke pedalaman istri malah bisa merusak suasana, karena bisa membuat istri menjerit bukan lantaran takut, tapi karena nyeri tak terperi. Malah mungkin bisa sampai berdarah-darah, sehingga membutuhkan perawatan luka. Dalam beberapa kasus bahkan ada yang sampai perlu dijahit akibat luka pasca-senggama. Alih-alih enak, malah bikin trauma istri seumur hidup. Bukannya untung, malah jadi buntung.

Pecahnya Pembuluh Darah


Selain itu, pembuluh darah pun bisa pecah jika Mr Pen sering ‘diperbesar’ dengan cara disedot vakum secara rutin oleh Sinshe. Pembuluh darah di daerah ini bersifat buntu, sehingga jika rusak akan mengakibatkan kematian jaringan yang diberinya makan. Mr Pen yang rusak pembuluh darahnya akan menjadi cemberut seumur hidup sehingga tidak akan bisa lagi menunaikan tugas dengan sempurna.

Yang jelas, perkawinan akan mudah goyah kalau cuma mengandalkan seks sebagai fondasinya. Seks cuma tiang kecil pondok perkawinan kita, sekadar pelengkap, bukan tujuan perkawinan. Karena itu, jangan andalkan seks kalau yang kita nantikan adalah kebahagiaan yang lebih besar. Kebahagiaan perkawinan lebih ditentukan oleh tepat tidaknya kita memilih teman hidup dan bagaimana kita mau saling mengerti pasangan kita lebih  lagi - dan itu  bisa terjadi dari buah bimbingan Roh Kudus. **















Jika Anda memiliki pertanyaan seputar seks, kirimkan e-mail ke <getlife@cbn.net.id> atau layangkan surat ke Redaksi getLIFE!. Dr. Handrawan Nadesul akan secara khusus melayani Anda di bidang ini.















What WOMEN WANT

80% wanita Inggris yang disurvey dalam ‘National Sex & Relationship Survey 2002 ‘ mengatakan bahwa “kasih sayang, perhatian dan pelukan” adalah hal utama yang paling diinginkan dalam sebuah hubungan cinta.  Hanya satu dari lima yang mengatakan ‘seks” sebagai yang terpenting..

Dua pertiga dari 2000 wanita yang ditanyai dalam jajak pendapat tersebut juga mengatakan mereka memilih berhubungan seks di dalam ikatan pernikahan. Hanya 22% yang memilih untuk berhubungan seks di luar pernikahan.  Hal ini sempat membuat kaget banyak kalangan mengingat masyarakat Inggris terkenal cukup liberal.

“Ini menunjukan para wanita di Inggris membutuhkan rasa aman dan kasih sayang untuk bisa melakukan hubugan seks dengan baik.” kata seorang  pengamat dalam thisislondon.com.

“Pendekatan wanita memang berbeda dengan laki-laki. Bagi wanita, untuk bisa doing sex dengan baik, relationship harus beres dulu. Kalau laki-laki ‘khan bisa melakukannya walau tanpa relationship sama sekali.” kata Ev. Hellen Pratama, seorang istri hamba Tuhan dari GKI Anugerah, Bandung.

Menurut Ev. Hellen, kebanyakan masalah keluarga berasal dari hilangnya respek istri pada suami atau sebaliknya, suami yang kehilangan kasih sayang kepada istrinya. “Buat wanita, kebutuhan untuk bisa respek ini mendasar. Jika dia tidak bisa respek tapi dipaksa untuk melakukan hubungan seksual, dia akan merasa seperti dimanfaatkan.” ** (GETLIFE  - www.inspirasianda.com)

Thursday, April 22, 2010

Soulmate: Ketika Pria dan Wanita Memilih Pasangan

Mitos 1: “Penampilan seorang laki-laki sama sekali tidak penting buat perempuan ketika memilih pasangan. Kalau laki-laki itu baik dan gigih, mau bagaimana pun penampilannya, semua perempuan pasti akan luluh  hatinya.”

(apalagi kalau ia datang naik mobil mewah dan setiap kali bertandang tidak lupa membawa oleh-oleh)

Mitos 2: “Buat laki-laki, prinsipnya adalah dari mata turun ke hati. Jadi kalau mereka memilih pasangan, pasti mereka akan mencari yang cantik karena buat mereka penampilan adalah kriteria nomer satu.”

(karena itu kosmetik pemutih kulit, krim anti kerut, dan obat pelangsing tubuh laku keras di pasaran)

Mitos 3: “Bagi perempuan, lebih baik dicintai daripada mencintai. Seiring berjalannya waktu, perempuan bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai laki-laki yang tadinya tidak ia sukai. Sementara sekali laki-laki menyukai seorang perempuan, selamanya ia tak akan berubah. Begitu pula sebaliknya, jika sejak awal ia tidak menyukai seseorang, ia tak akan pernah bisa belajar mengubah hatinya dan mulai mencintai orang itu.”

(No comment untuk yang satu ini. LIFEcrew pun sampai  TERKAGET-KAGET mendengarnya)

Diakui atau tidak, kita hidup dalam sebuah dunia yang dipenuhi mitos perbedaan laki-laki dan perempuan, termasuk ketika mereka memilih pasangan. Ada banyak mitos beredar mengenai perbedaan kriteria pasangan yang dicari oleh laki-laki dan perempuan. Sebagian kedengaran cukup logis, sebagian memancing senyum geli dan sebagian lagi menyebabkan kening berkerut dan nada suara meninggi, “Siapa bilang perempuan beranggapan seperti itu?” atau “Tidak semua laki-laki begitu. Aku tidak begitu!”

Untuk menggali lebih jauh mengenai perbedaan prioritas yang dicari laki-laki dan perempuan dari pasangannya, LIFEcrew telah menyebarkan angket kepada seratus empat orang responden laki-laki dan sembilan puluh delapan responden perempuan di Bandung dan Jakarta dengan usia antara 21 sampai 35 tahun. Responden diminta memilih kriteria-kriteria apa saja yang dianggap paling penting dalam memilih pasangan. Selain itu redaksi juga sempat melakukan bincang-bincang santai sambil minum teh sore dengan beberapa anggota kelompok Paduan Suara kontemporer “Glorify The Lord Ensemble” (GTLE) di sebuah café di kota kembang Bandung, untuk mendiskusikan hasil angket tersebut.

RUBRIK ADAM


Dari hasil angket yang disebarkan kepada 104 responden kaum Adam diperoleh kesimpulan bahwa kriteria yang paling penting bagi laki-laki ketika memilih pasangan adalah sebagai berikut:

1. iman

2. penampilan dan sikap

3. kesamaan minat

4. level intelektualitas

5. level sosial ekonomi

Sambil bincang-bincang santai dan minum teh sore di sebuah café, Ivan Saba Jr (24) dan Tunggul (23) dari kelompok GTLE mencoba menganalisa urutan yang muncul dia atas.

  • 93 % responden menyatakan bahwa iman kerohanian adalah kriteria yang paling krusial dalam menentukan pasangan


“Itu memang kriteria nomor satu,” kata Ivan tanpa ragu-ragu, ”Harus satu iman dan satu agama.” Ivan yang sore itu tampil kasual dengan handuk putih membungkus kepalanya (supaya praktis tapi tetap trendy, akunya) menegaskan bahwa iman yang sama adalah fondasi untuk membangun sebuah hubungan yang kokoh. “Terutama untuk ke depan kalau nanti kita punya anak, misalnya,” tambah laki-laki yang berprofesi sebagai musisi itu. Rekannya, Tunggul (23), seorang mahasiswa, lebih menekankan pada efek dari kerohanian itu sendiri. “Kalau di dalamnya bagus, pasti di luarnya pun bagus. Jadi level kerohanian seseorang pasti kelihatan dari tingkah lakunya.”

  • 46 % responden memilih penampilan dan sikap


“Yang penting adalah cara pembawaan dirinya dia sehingga di mana pun dia berada bisa membawa suasana jadi menarik,” jelas Tunggul yang merasa kurang PeDe kalau jalan dengan orang yang tidak bisa bawa diri. “Penampilan yang enak dilihat itu penting tapi lebih penting lagi suasana yang nyaman,” Tunggul menambahkan sambil menyebut kriteria perempuan idealnya adalah yang proporsional. Ivan cenderung menyukai perempuan yang matang dan keibuan. “Sebetulnya pembawaan diri yang paling berpengaruh,” Ivan menegaskan kembali apa yang baru dikatakan Tunggul. “Misalnya, kalau musimnya makan di warteg, dia harus bisa makan di warteg. Tapi kalau harus makan di acara resmi, dia juga menguasai table manner.”

  • 38 % responden memilih kesamaan minat dan interest


“Dengan memiliki kesamaan minat dan interest, lebih gampang untuk kita fokus ke depan,” Ivan menjelaskan alasannya menempatkan kriteria ini sebagai nomor tiga terpenting, “Kalau minat kita beda, kemungkinannya kecil untuk bisa langgeng.” Minat pada seni adalah prasyarat yang mau tidak mau mesti dimiliki jika ingin menjadi pasangan Ivan. Hampir berkebalikan 180%, Tunggul justru menginginkan pasangan yang minat dan interest-nya sama sekali berbeda. “Kalau sama, malah bisa jadi jenuh. Aku selalu ingin tahu tentang hal-hal lain jadi kalau pasanganku punya minat dan interest yang beda, kita bisa sama-sama saling belajar hal baru.”

  • 34 % responden memilih kesetimbangan level pendidikan dan intelektualitas


“Cerdas berarti dia tahu bagaimana harus bersikap, punya cara berpikir yang dewasa dan bisa mengerti keadaanku,” Tunggul menguraikan jawabannya dengan lancar sementara Ivan mengaku tidak punya standar level pendidikan untuk pasangannya, “Yang penting wawasannya luas. Orang  yang berpendidikan belum tentu memiliki wawasan yang luas. Aku lebih suka ngobrol dengan lulusan SMP atau SMA tapi tahu banyak daripada lulusan universitas yang tidak tahu apa-apa.”

“Justru orang yang kerjanya sekolah melulu itu sepertinya adalah orang yang takut menghadapi dunia riil, kalau menurut aku lho,” tambah Tunggul lagi.

Ø  Dan hanya 15 % responden memilih kesetimbangan level sosial ekonomi


“Asal pasanganku mau hidup biasa-biasa, tidak ada masalah,” kata Tunggul yang tidak keberatan jika pasangannya punya penghasilan lebih tinggi selama hal itu tidak menjadikannya bersikap sok hebat. Untuk Ivan, yang penting pasangannya mau menerimanya apa adanya. “Tidak masalah kalau ternyata dia datang dari keluarga yang jauh lebih kaya dibanding aku,” kemudian sambil tertawa ia menambahkan, “Bukannya malah bagus?”

RUBRIK EVE


Sementara hasil angket kaum Hawa menampilkan perbedaan prioritas yang menjadi bahan perbincangan yang menarik di antara para anggota perempuan GTLE yang berkumpul sore itu: Santi (21), Nesti (27), Grace (30) dan Intan (27).

Prioritas kriteria seorang perempuan ketika memilih pasangan menurut hasil angket adalah sebagai berikut:

1. iman kerohanian

2. penampilan dan sikap

3. level intelektualitas

4. kesamaan minat

5. level sosial ekonomi



  • 89 % responden memilih iman kerohanian sebagai kriteria yang paling penting ketika menentukan pasangan.


Keempat gadis cantik ini dengan suara bulat mendukung pilihan pertama hasil angket yang diperoleh Get LIFE. “Tidak bisa ditoleransi, pasanganku harus anak Tuhan yang paham bahwa hidup ini adalah kasih karuniaNya,” kata Emmanuela Chrisanti Asterina Abednego yang akrab dipanggil Santi ini. Pendapat Santi didukung oleh rekannya, Yunesti Nugraheni Tyaswati yang sangat mementingkan kesamaan visi dan misi dalam membangun rumah tangga. “Pernikahan itu, kan buat selama-lamanya. Bagaimana bisa tahan kalau visi dan misinya beda?” Lebih lanjut Nesti menambahkan, “Punya pasangan yang seiman juga akan mengurangi resiko hal-hal buruk di kemudian hari, misalnya perceraian.” Sementara Intan yang berstatus mahasiswi percaya bahwa Firman Tuhan adalah landasan untuk membangun hubungan yang sehat.

  • 68 % responden memilih penampilan dan sikap


Grace yang berprofesi sebagai wiraswastawati berargumen bahwa penampilan yang dimaksud di sini bukan wajah atau fisik seorang laki-laki tapi lebih ke arah bagaimana ia bertingkah laku, berbicara, dan berpenampilan. “Cara ia berpakaian misalnya,” kata Grace, “bisa menunjukkan apakah ia memperlakukan dirinya sendiri dengan seenaknya atau ia bisa menghargai diri.” “Dan lewat cara bicaranya, kita bisa tahu bagaimana ia berhubungan dengan orang lain,” tambah Intan. Untuk Santi, pria idealnya haruslah seseorang yang tingkah lakunya mencerminkan teladan Yesus dan bisa menjadi berkat buat orang lain. “Tampang dan penampilan fisik, sih tidak masuk hitungan,” tambahnya yang dibenarkan oleh ketiga rekannya meskipun sambil tertawa akhirnya Grace mengakui bahwa cukup sulit baginya untuk menyukai seorang laki-laki yang tidak memenuhi kriteria idealnya: tinggi, putih, dan bertampang oriental.



  • 57 % responden memilih kesetimbangan tingkat pendidikan dan intelektualitas




Wawasan yang luas ternyata menduduki posisi yang lebih penting dari pada gelar akademik. “Mau lulusan SMP pun tidak masalah, asal cerdas,” kata Intan. “Selama orangnya punya wawasan dan nyambung kalau diajak bicara, titel akademik tidak masalah,” kata Santi yang menyukai laki-laki yang suka membaca. Tapi setelah dikorek lebih lanjut, ia dan Nesti mengakui bahwa pasangan mereka minimal harus lulusan S-1. “Kesannya aneh kalau pasanganku level pendidikannya kurang dari D-3,” Nesti mengakui sambil tertawa renyah. Sementara untuk Grace, pasangannya haruslah seseorang yang wawasan dan level pengetahuannya di atas dia, “Saya harus bisa look up to him karena saya orangnya suka bertukar pikiran dan senang mendapat masukan.”

  • 46 % memilih kesamaan minat dan interests


“Pokoknya pasanganku harus punya minat pada musik,” tegas Santi, “Kalau tidak, aku tidak mungkin jadian dengan dia.” Sementara Intan berharap mendapatkan pasangan yang punya hobi travelling dan punya kecintaan besar terhadap anak-anak muda seperti dirinya. Impiannya adalah melakukan pelayanan untuk anak-anak muda di berbagai kota bersama pasangannya. “Jadi bisa setahun di sini, setahun di sana,” katanya dengan mata berbinar,” Pastinya pasangan saya harus orang yang punya panggilan pelayanan yang sama dan berjiwa petualang.”

Grace mencari pasangan yang menyukai seni dan olahraga. “Rasanya aneh, ya, kalau cowok tidak suka olah raga,” cetusnya. Tapi buat Grace, masalah minat dan interest ini bukan hal yang terlalu krusial. “Kita, kan harus belajar menikmati kesenangan masing-masing. Saya akan mengajak dia olah raga dan menikmati seni, itu toh tidak ada ruginya. Tapi saya juga akan belajar menikmati apa yang dia suka, mengoleksi perangko misalnya.”

  • Dan 21 % menyatakan kesetimbangan level sosial ekonomi


Keempatnya sepakat menempatkan kriteria ini sebagai yang paling tidak penting dibandingkan kelima kriteria lainnya. Intan mengakui bahwa orang tuanya sempat mengingatkan bahwa sebaiknya ia memilih pasangan yang level ekonominya seimbang. “Jangan yang lebih kaya,” katanya, “jadi kita bisa saling menghargai.” Sementara Grace justru berharap tidak mendapat pasangan yang level sosial ekonominya lebih rendah. “Kasihan, kan, dia sebagai laki-laki kalau di-look down.” Tetapi mengenai pemenuhan kebutuhan atau jumlah penghasilan, hal itu sama sekali bukan masalah. “Yang penting punya niat untuk maju dan mau bekerja keras,” kata Santi meskipun ia mengakui bahwa ia juga mempertimbangkan faktor lingkungan sosial di mana pasangannya tumbuh dewasa. Dan Intan menutup bincang-bincang yang menyenangkan itu dengan mengingatkan, “Kita tidak usah kuatir untuk masalah finansial, Tuhan pasti akan mencukupkan segala kebutuhan kita.” ** (SL)