Wednesday, November 30, 2011

Wahana Visi Indonesia: Mewujudkan Mimpi Anak-anak Bangsa


Wahana Visi Indonesia: Mewujudkan Mimpi Anak-anak Bangsa

Oleh: Chriswan Sungkono


Setiap anak hidup utuh sepenuhnya (Yohanes 10:10b) dan setiap hati punya tekad untuk mewujudkannya. Sepenggal kalimat itu adalah gol utama Wahana Visi Indonesia. Sejauh mana kiprah mereka, dan apa yang bisa kita bantu?


Baru saja menamatkan SMP, Rasti (nama sengaja disamarkan) tak membayangkan apa-apa ketika ia melintas perbatasan Kalimantan Barat – Malaysia Timur untuk bekerja. Yang ada di otaknya hanyalah harapan bahwa dengan begini, ia bisa membantu ayah ibunya menafkahi keluarga. Tak mampu berbuat banyak, di Kuching ia menjadi pembantu rumah tangga.

Ia tak menyangka, harapan dengan kenyataan ternyata bisa berseberangan. Yang ia dapatkan disana bukannya honor yang layak, melainkan siksaan dan kepahitan. Setelah berpindah-pindah majikan, majikannya yang terakhir malah memperkosanya. Sadar bahwa dirinya hamil, Rasti lari. Pulang. Usianya baru saja 16 tahun.

Lewat serangkaian pengalaman yang nyaris bagaikan keajaiban, Rasti kini kembali bersekolah di sebuah SMU di Singkawang. Bayi laki-lakinya ia relakan untuk diadopsi keluarga lain yang lebih mampu. Rasti mau belajar banyak hal agar bisa hidup lebih baik, dan dengan program anak asuh dari Wahana Visi Indonesia, ia bisa tersenyum: mimpinya mulai membentuk kenyataan.

Banyak sekali anak-anak yang perlu bantuan seperti Rasti. Tersebar di banyak daerah, hanya sedikit dari mereka yang terlayani, hanya karena tak ada yayasan lokal yang bisa menolong. Saat itu, di tahun 1996 ekonomi Indonesia cukup baik tapi donor masih banyak yang dari luar negeri. Sementara di Indonesia banyak orang berkecukupan yang rindu untuk mengulurkan bantuannya, hanya saja tak tahu kemana dananya harus didonorkan.

Kedua alasan tersebut mendasari berdirinya Yayasan World Vision Indonesia pada tahun 1996. Lalu pada tahun 1998, dibentuklah Yayasan Wahana Visi Indonesia yang benar-benar lepas secara legal dari World Vision, namun tetap menjadi mitra utamanya. Sejak itu, dua kegiatan besar WVI adalah beroperasi di lapangan sekaligus mengembangkan segala potensi sumber daya dalam negeri.

Pionirnya area development
Sejak gebrakan itu, WVI menggiatkan dirinya pada pembangunan area (area development). Pengembangan ini tak hanya berbasis desa-ke-desa, tetapi mencakup seluruh kabupaten. Biasanya, pihak WVI memilih tiga kecamatan untuk dibina intens. Suatu program pembangunan area direncanakan untuk berlangsung selama 15 tahun.

Karena harus akuntabel kepada donor, dan lagi banyak sumber daya yang akan fatal jika tidak ditangani langsung, WVI melakukan program pembangunan area ini tanpa diwakili pihak lain. Dengan begitu, pola kemitraan WVI dengan yayasan-yayasan lokal berubah. Tadinya sebagai penyalur dana, WVI kini turut campur tangan dalam kehidupan masyarakat lokal, otomatis menjadi mitra bagi LSM-LSM lokal (misalnya LSM kesehatan dan pendidikan).

Wahana Visi tidak menerapkan program yang seragam di semua area yang mereka kembangkan. “Gerakan kami selalu dimulai dari masalah yang dihadapi masyarakat setempat. Sebelum merancang program, ada persiapan sosial yang makan waktu dua tahun. Bentuknya seperti pelatihan masyarakat sekaligus pengenalan WVI kepada mereka, termasuk membantu menemukan akar masalah yang mereka hadapi,” papar Eddy Sianipar, General Manager Yayasan WVI ketika diwawancarai getLIFE!.

Ia kemudian meneruskan, “Tak cuma itu, kami juga harus mendapatkan persetujuan dari masyarakat, pemerintah setempat, dan pemimpin-pemimpin agama. Kami mengajak mereka untuk menangani masalah, dimulai dari menyusun visi dan misi bersama, hingga teknis pelaksanaannya.”

Program jangka panjang yang besar itu lalu dipilah-pilah bersama menjadi gol-gol jangka pendek. “Dan, karena anak-anak adalah fokus utama WVI, kami selalu memastikan bahwa setiap program yang dijalankan ini bermanfaat langsung pada kehidupan anak-anak daerah itu.”

Solusinya harus holistik dan realistis
Untuk semua bidang permasalahan yang dihadapi penduduk setempat (terutama kaum anak), menurut Eddy solusinya tidak saja unik, tapi juga harus holistik. Untuk masalah pendidikan, misalnya, WVI tak hanya membantu penyediaan baju seragam dan buku-buku sekolah, tetapi juga melakukan pelatihan guru, menerapkan metode mengajar yang tepat, mengurus ketertiban kurikulum, sampai membayar uang sekolah anak-anak.

Isu kesehatan anak sudah tentu terdaftar dalam fokus utama WVI. Tiap-tiap daerah yang sedang dikembangkan pasti punya kesulitan berbeda: pengentasan kemiskinan yang parah, kelangkaan air bersih, rendahnya asupan gizi, epidemi penyakit, terhambatnya program imunisasi, dan masih banyak lagi. WVI aktif mengajak berbagai pihak setempat mengatasi setiap kendala ini.

Realistis. Itulah ciri yang cocok menggambarkan setiap program WVI. “Jika kami mau meningkatkan kesehatan anak, kami harus tahu dulu, bagaimana sih anak itu bisa dikatakan ‘sehat’ di penghujung program? Tidak ada lagi epidemi diare, tidak ada lagi yang busung lapar, misalnya. Kami selalu menyusun standar-standar yang dimonitor dan dievaluasi terus-menerus selama lima belas tahun oleh tim lapangan.”

Pusat-pusat pengembangan
Hingga penghujung tahun 2005, WVI telah merintis 29 pusat pengembangan area: sembilan di Papua, tujuh di Nusa Tenggara Timur, dua di Sulawesi, lima di Jakarta, dua di Surabaya, dan empat di Kalimantan Barat. ADP yang paling awal ada di Kepulauan Banggai, Sulawesi Tengah. Usianya kini menginjak 10 tahun.

“Lima tahun lagi, ketika ADP usai, penduduk Banggai akan sudah mandiri. Kami lalu akan menyerahkan tugas-tugas kemasyarakatan selanjutnya pada LSM-LSM lokal,” ujar Eddy, seraya memperlihatkan peta Indonesia dengan titik-titik yang menunjukkan lokasi-lokasi ADP-nya. Seperti itulah nantinya masa depan semua daerah yang sedang dikembangkan WVI.

WVI mempekerjakan sekitar empat ratus orang di seluruh lahan operasionalnya, meliputi community development coordinator, petugas finansial, fasilitator, dll. Masing-masing petugas bertanggung jawab secara hierarkis, dan di ujungnya, koordinator tiap area rutin melaporkan setiap pertumbuhan dan masalah baru pada Program Officer (tiap-tiap wilayah), terpusat di Jakarta.

Tiga ADP: di Kota Merauke, pedalaman Merauke, dan Singkawang, sepenuhnya disokong donor lokal. Sementara 26 ADP sisanya masih harus mengandalkan pendanaan donor internasional (dari Kanada, AS, Jerman, Jepang, dan Hong Kong). “Kami ingin jumlah ADP yang bisa sepenuhnya didanai donor lokal bertambah,” harap Eddy.

Program Anak Asuh jadi andalan
Tersebar di 29 ADP itu, tak kurang ada 65 ribu anak asuh yang disantuni WVI. Program Anak Asuh inilah yang menjadi ujung tombak pelayanan WVI. Otomatis, dana WVI yang totalnya mencapai jutaan dolar pun paling banyak diserap disini.

Namun, tidak sepeserpun anak-anak ini terima secara cash. Semuanya ‘dicairkan’ dalam program-program pengembangan komunitas, perbaikan hidup, dan pendidikan. Namun, jumlah anak asuh yang disokong donor lokal ternyata masih sedikit: hanya sekitar tiga ribuan. “Orang Indonesia tidak biasa menjadi penyumbang jangka panjang,” keluh Eddy.

John Nelwan, Marketing Manager WVI, turut mengiyakan. “Mereka hanya mau menyumbang sesekali saja saat presentasi kami berhasil mengharukan mereka. Padahal kami berharap orang Indonesia bisa berperan lebih banyak dalam program penyantunan anak yang rutin, yang sebenarnya menjadi konsentrasi pokok ADP,” sahut John.

Bagaimanapun, uang bukanlah segalanya. Menurut John, para donor diharapkan tidak hanya sekedar mendukung dana, tetapi bisa membantu lebih jauh: masalah anak asuh satu demi satu harus bisa mereka pahami pula. Buat WVI, motivasi yang lebih dalam adalah menghubungkan anak asuh dengan donaturnya, salah satunya dengan laporan perkembangan anak tahunan.

“Kami mau menekankan aspek antarmanusia, bukan sekedar tindakan memberi uangnya itu. Dengan adanya laporan, sponsor jadi mengenali kesulitan anak, keluarga, dan masyarakatnya, sehingga sadar bahwa mereka memang benar-benar membutuhkan bantuan, dan semua kontribusi itu berguna,” ujar John.

Hingga kini, jumlah anak-anak Indonesia yang masih terbelenggu rantai kemiskinan tak berujung ada puluhan ribu. Apakah masa depan mereka nantinya akan suram, atau gemilang, sebagian tergantung kemurahan hati kita. Adakah secercah sukacita buat mereka, dari kita?** (CS)


Ingin Membuat Mereka Tersenyum?
Anda yang tergerak (semoga tidak hanya kali ini saja) untuk menghadirkan segaris senyum di wajah satu, dua, atau sepuluh anak asuh, atau ingin terlibat langsung memberikan tenaga bagi pelayanan WVI, silakan hubungi:
Wahana Visi Indonesia
HOS. Cokroaminoto 1
Jakarta Pusat 10350
(021) 3193-0244
idn_donor_relation@wvi.org

1 comment:

  1. Salam kenal Wvi.

    Perkenalkan Nama Tepy Komangal S.E
    Saya sdah menyelesaikan pendidika sarjana strata 1 di Unika Widya Mandala Surabaya pada tahun 2013 buln mei.
    Sekarang saya tingal di Papua, Kab. Mimika, Distrik Kwamki Narama.
    saya dn teman sy yg bernama Adi Komangal Sth. Membentuk satu komunitas pemuda yg dinamakan, Komunitas Persekutuan Doa Generasi Muda (KPDGM), Anak2x pnya semangat luar biasa untuk ikut program pembinan, namun Banyak kendala yg kami hadapi selama ini....
    Harapan kami semoga Wvi bisa melihat kmi juga sbgaimana melihat sahabat2x kita yg lain di nusantara ini.

    Contac Number 082335149111/ email. tepykomangal@gmail.com

    Salam sukses bersama WVI

    tepy


    ReplyDelete